Purbaya menilai kenaikan belanja ini menunjukkan bahwa kebijakan fiskal tetap bersifat ekspansif namun dengan tingkat risiko defisit yang terjaga.
“Keadaan membaik. Keseimbangan primer sudah surplus Rp28 triliun dan ke depan akan terus membaik karena pendapatan negara tumbuh,” tegas Purbaya.
Akselerasi pendapatan negara pada kuartal II-2026 ini utamanya ditopang oleh sektor penerimaan perpajakan yang mencapai Rp746,9 triliun atau naik 13,7 persen yoy.
Dari jumlah tersebut, penerimaan pajak tercatat tumbuh paling tinggi, yakni 16,1 persen yoy hingga mencapai Rp646,3 triliun.
Kinerja sektor pajak ini terbilang impresif karena mampu berbalik arah (rebound) dari kondisi April tahun lalu yang sempat terkontraksi 10,8 persen.
Selain sektor perpajakan, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) juga menyumbang pertumbuhan positif sebesar 11,6 persen dengan nilai Rp171,3 triliun.