Indonesia sering kali menghadapi masalah sebaliknya: pergantian prioritas, tarik-menarik elite, dan kompromi politik jangka pendek. Karena itu, pertanyaan paling penting bukan apakah Indonesia memiliki sumber daya untuk maju. Indonesia jelas memilikinya.
Karena itu, sudah seharusnya para elite politik, birokrasi, dan ekonomi Indonesia bersedia mendukung Presiden dan meninggalkan pola rente jangka pendek demi transformasi jangka panjang.
Pidato Presiden Prabowo di DPR menunjukkan bahwa pemerintah memahami besarnya tantangan tersebut. Arah besarnya pun relatif tepat: industrialisasi, kedaulatan ekonomi, disiplin fiskal, dan pembangunan produktivitas nasional.
Namun sejarah pembangunan dunia menunjukkan bahwa visi besar hanya akan menjadi kenyataan jika diikuti reformasi institusional yang konsisten, keberanian memberantas rente, serta investasi besar pada kualitas manusia.
Jika itu berhasil dilakukan, Indonesia memiliki peluang nyata menjadi kekuatan ekonomi besar dunia pada 2045.
Kita harus berupaya agar visi besar Presiden tidak dirusak oleh para penumpang gelap yang berorientasi proyek atau kepentingan jangka pendek, agar Indonesia tidak terjebak terus menjadi negara berpendapatan menengah dengan pertumbuhan yang melambat dan ketimpangan yang melebar.
Dan sejarah menunjukkan, lebih banyak negara gagal keluar dari jebakan itu dibanding yang berhasil melampauinya. Karena itu kita harus mendukung cita-cita Presiden membawa keberhasilan bagi bangsa dan negara kita.
(Feby Novalius)