Risalah tersebut menyoroti kekhawatiran yang semakin dalam di antara para pejabat Fed tentang tekanan inflasi yang disebabkan oleh perang Iran. Pada rapat April, FOMC memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan dana federal tetap stabil dalam kisaran 3,5 persen hingga 3,75 persen.
Dari sentimen domestik, investor menghindari risiko setelah Presiden Prabowo memperketat aturan ekspor komoditas utama, termasuk minyak sawit, batubara, dan ferroalloy, dengan mewajibkan pengiriman melalui satu eksportir milik negara. Kehati-hatian juga meningkat menjelang data neraca transaksi berjalan kuartal pertama yang akan dirilis Jumat, menyusul defisit kuartal keempat yang didorong oleh kesenjangan harga minyak yang lebih lebar.
Disisi lain, keputusan Bank Indonesia menaikkan BI Rate tentu telah ditimbang matang-matang, dan hal ini dilakukan sebagai langkah pre-emptive yang terukur untuk merespons dinamika ketidakpastian global. BI tentu berkepentingan untuk menjaga nilai tukar dan stabilitas rupiah. Meskipun langkah ini akan menimbulkan beban tambahan pada biaya pinjaman, Keputusan ni diharapkan dapat melindungi rupiah dari proses pelemahan yang lebih dalam.
Keputusan Bi menaikkan suku bunga acuan, tidak hanya bekerja sebagai instrumen teknis untuk mengendalikan permintaan dan arus keluar modal. Tetapi, sekaligus juga menjadi upaya untuk memperoleh kembali kepercayaan. Dengan menaiikan suku bunga acuan, Bank Indonesia ingin menyatakan bahwa posisi rupiah masih akan dijaga, ekspektasi inflasi tidak akan dibiarkan liar, dan otoritas moneter belum kehilangan kendali.
Pemerintah sendiri bukan tidak menyadari risiko yang bakal timbul. Mungkin benar bahwa dengan menaiikan suku bunga acuan akan dapat menahan proses pelemahan rupiah, tetapi pada saat yang sama sesungguhnya juga berisiko dapat mempermahal dana, menekan kredit, mengerem investasi, dan memperberat cicilan dunia usaha maupun rumah tangga.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.660-Rp17.710 per dolar AS.
(Taufik Fajar)