“KPR tentu dibantu pemerintah. Pemerintah membuat program KPR subsidi yang dibatasi maksimal pendapatan. Maksudnya memang menyasar masyarakat berpenghasilan rendah karena masih banyak yang unbanked. Kalau ada 10 desil, maka yang paling sulit itu desil 1-2, sedangkan desil 3-8 diintervensi lewat KPR,” jelasnya.
Adapun pada tahun ini, program BSPS ditargetkan menyasar sekitar 400 ribu rumah tangga di seluruh Indonesia.
“Untuk desil 1-2 ini pemerintah mengeluarkan BSPS, bantuan stimulan pembangunan swadaya. Jadi pemerintah memberikan Rp20 juta sampai Rp25 juta per rumah tangga. Tahun ini ada 400 ribu rumah tangga,” lanjutnya.
Nixon menambahkan, pemerintah kini sedang mengkaji tenor KPR hingga 40 tahun agar masyarakat berpenghasilan rendah semakin mudah mengakses pembiayaan rumah.
“Hari ini pemerintah mengkaji KPR sampai 40 tahun. Mudah-mudahan desil 1-2 bisa dapat. Ini cara penetrasi MBR,” ujarnya.
Selain melalui pembiayaan rumah, BTN juga mengandalkan digitalisasi untuk menjangkau masyarakat yang belum tersentuh layanan perbankan. Nixon menilai penetrasi telepon seluler di Indonesia saat ini jauh lebih tinggi dibandingkan kepemilikan rekening bank.
Ia mencontohkan, selama lebih dari 70 tahun BTN telah menyalurkan sekitar 6 juta KPR. Namun, dalam waktu kurang dari tiga tahun, pengguna mobile banking BTN sudah mencapai sekitar 5 juta akun.
“Kita buat digitalisasi untuk perbankan. Penetrasi HP lebih banyak dibandingkan penetrasi account. BTN usia lebih dari 70 tahun, KPR sekitar 6 jutaan, sedangkan mobile banking belum sampai tiga tahun sudah 5 juta akun. Menurut saya jumlah user mobile akan melampaui KPR,” ungkapnya.
“Penetration rate sekarang lebih mudah karena mobile banking bisa dibuka dari rumah. Itu cara kami mengakses masyarakat unbanked,” tutupnya.
(Taufik Fajar)