JAKARTA - Sinergi antara pemerintah dan sektor perbankan pelat merah terus dimatangkan untuk mendukung ambisi Presiden Prabowo Subianto dalam memastikan ketersediaan hunian layak bagi masyarakat berpenghasilan rendah. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI muncul sebagai penggerak utama dengan capaian realisasi pembiayaan yang melampaui target awal dalam waktu relatif singkat.
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait, melakukan kunjungan kerja strategis ke Kantor Pusat BRI untuk mengevaluasi sekaligus mengakselerasi program Kredit Program Perumahan (KPP). Dalam pertemuan tersebut, menteri yang akrab disapa Ara itu menegaskan bahwa peran perbankan sangat vital dalam menggerakkan roda ekonomi melalui sektor konstruksi dan UMKM pada rantai produksi rumah subsidi.
Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menyatakan komitmen penuh untuk mengawal kebijakan tersebut melalui percepatan eksekusi di lapangan. Sinergi ini dinilai mampu menjawab tantangan backlog perumahan yang selama ini menjadi perhatian serius pemerintah pusat.
"Hari ini saya kedatangan tamu, Pak Menteri PKP. Kami berdiskusi tentang bagaimana caranya menyalurkan pembiayaan perumahan bersubsidi dan juga KUR kepemilikan perumahan. Alhamdulillah, BRI bisa mendukung program ini dengan baik," ujar Hery dalam jumpa pers di Kantor Pusat BRI Sudirman, Jakarta, Minggu (25/5/2026).
Berdasarkan data per 25 Mei 2026, capaian BRI di pasar rumah subsidi terlihat kontras dibandingkan lembaga keuangan lainnya. Realisasi KPP BRI telah mencapai Rp9,2 triliun yang terdiri atas sisi supply sebanyak 752 nasabah dengan nilai Rp1,1 triliun dan sisi demand sebanyak 65.576 nasabah senilai Rp8,1 triliun.