Pengembangan biomethana berbasis sawit juga dinilai dapat memperkuat target pemerintah mencapai bauran energi baru terbarukan sebesar 23 persen.
Di tengah tantangan transisi energi dan tingginya impor LPG, pengolahan limbah sawit menjadi "kembaran hijau" gas alam mulai dipandang sebagai salah satu solusi yang realistis dari sektor agroindustri nasional.
Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan pemanfaatan gas domestik menjadi salah satu strategi untuk mengurangi beban impor LPG yang setiap tahun masih cukup tinggi.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut penggunaan energi berbasis gas dalam negeri lebih kompetitif karena sumber daya dan industrinya tersedia di Indonesia.
"Gasnya ada di kita, industrinya juga ada di dalam negeri. Karena itu pengembangannya perlu terus diperluas," ujar Bahlil dalam keterangan terkait program substitusi energi impor.
(Dani Jumadil Akhir)