"Jadi hati-hati menerjemahkan data. Saya bukannya anti, tetap saya akan periksa. Tapi jangan sampai simpulkan satu atau dua di tempat, terus artinya semuanya seperti itu. Belum tentu. Saya pernah dikritik sama profesor-profesor saya, ketika melakukan hal seperti itu," papar Purbaya dengan tegas.
Kendati demikian, Purbaya menegaskan bahwa pemerintah tidak akan tinggal diam jika hasil investigasi internal nantinya benar-benar menemukan adanya pelemahan daya beli pada sektor riil tersebut.
"Kalau memang benar ada fenomena itu, di warteg ada perubahan konsumsi, saya akan tambah lagi stimulus kepada perekonomian, itu akan memberi daya beli tambahan ke masyarakat," janji Purbaya.
Sebelumnya, keresahan melanda para pemilik usaha warteg akibat merosotnya omzet penjualan. Dampak dari kenaikan harga bahan pangan dan barang-barang kebutuhan lainnya memaksa konsumen memutar otak dalam mengatur anggaran makan mereka.
Pembeli kini cenderung mematok harga makanan di kisaran Rp10.000-an dan sudah mulai jarang yang bertransaksi di atas Rp20.000.
Konsumen lebih memilih paket lauk pauk di bawah rentang Rp15.000 hingga Rp20.000, seperti menu tahu, tempe, telur balado, aneka gorengan, serta menyiasatinya dengan memperbanyak porsi sayuran.
Menu-menu dengan bahan dasar yang mahal seperti rendang daging sapi, semur sapi, ayam goreng, cumi-cumi hitam, hingga olahan udang kini mulai jarang dilirik oleh pembeli.
(Taufik Fajar)