JAKARTA - Prospek harga minyak dunia kembali menjadi sorotan dalam Panel Energi yang berlangsung pada ajang St. Petersburg International Economic Forum (SPIEF) 2026. Sejumlah tokoh energi global memperkirakan harga minyak masih berpotensi bergerak tinggi dalam setahun ke depan, terutama akibat ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah dan risiko gangguan pasokan global.
Panel tersebut menghadirkan sejumlah pembicara, antara lain CEO Rosneft Oil Company Igor Sechin, Menteri Energi Uzbekistan Jorabek Mirzamahmudov, mantan Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA) Nobuo Tanaka, serta Presiden TOFS Group of Companies David Gadzhimirzaev.
SPIEF merupakan forum ekonomi tahunan yang mempertemukan pemimpin pemerintahan, pelaku usaha, akademisi, dan tokoh publik untuk membahas berbagai isu strategis ekonomi global. Pada tahun ini, forum berlangsung di St. Petersburg, Rusia, pada 3–6 Juni 2026 dengan fokus pembahasan mencakup ekonomi dunia, teknologi masa depan, stabilitas pasar, dan kerja sama internasional.
Dalam diskusi tersebut, Igor Sechin menilai perkembangan situasi di Selat Hormuz akan menjadi faktor utama yang memengaruhi arah pasar minyak global dalam jangka menengah.
“Jika Anda dapat memberi tahu saya secara pasti berapa lama krisis di Selat Hormuz akan berlangsung, akan lebih mudah bagi kami untuk menentukan dampaknya terhadap harga dari 16 juta barel per hari yang terdampak dari pasar,” ujarnya.
Menurut Sechin, apabila berbagai pembatasan yang berkaitan dengan konflik di Selat Hormuz dapat segera dicabut, harga rata-rata minyak pada akhir tahun berpotensi berada di kisaran USD95–96 per barel.
“Dibutuhkan sekitar enam bulan untuk memulihkan momentum positif. Kemudian, dalam waktu satu tahun, kita kemungkinan akan melihat harga di kisaran USD80–85 per barel. Hal ini karena pemulihan pasokan saja membutuhkan waktu dan investasi yang signifikan. Dengan demikian, pada paruh kedua 2027, barulah kita mungkin dapat berbicara mengenai kembalinya pasar pada indikator fundamentalnya. Saya percaya ini merupakan pendekatan yang lebih objektif dalam melihat pembentukan harga,” kata Igor Sechin.
Perkembangan harga minyak global memiliki dampak langsung bagi Indonesia yang masih mengandalkan impor energi dalam jumlah besar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai impor Indonesia sepanjang 2024 mencapai USD235,2 miliar, termasuk impor minyak dan gas sebesar USD36,3 miliar.
Karena itu, setiap gangguan pada jalur distribusi energi dunia, perubahan pola pasokan, maupun kebijakan sanksi terhadap negara produsen utama dapat berpengaruh terhadap biaya impor energi, inflasi, hingga stabilitas ekonomi domestik.
Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia. Sebagian pasokan minyak yang masuk ke Indonesia juga melewati kawasan tersebut. Jika terjadi gangguan berkepanjangan, dampaknya dapat dirasakan pada harga bahan bakar, biaya logistik, serta kebutuhan subsidi energi pemerintah.
Selain situasi di Timur Tengah, Sechin juga menyoroti kemungkinan dampak jika sanksi baru kembali diberlakukan terhadap ekspor minyak Rusia.
“Jika 7 juta barel ekspor minyak Rusia ditambahkan ke 16 juta barel yang sudah terdampak oleh pembatasan, maka akan ada tambahan USD100 terhadap level USD150–160,” ujar Sechin.
Meski demikian, ia menilai Rusia tetap akan mampu mempertahankan sebagian besar ekspornya sehingga dampak sanksi tidak akan sepenuhnya sesuai harapan pihak yang menerapkannya.
“Dan kecil kemungkinan rencana mereka akan terlaksana seperti yang mereka inginkan. Level harga yang lebih tinggi akan mengimbangi penurunan volume yang terkena sanksi. Jadi, mungkin mereka sebaiknya tidak mengulangi kesalahan yang sama, karena langkah tersebut bisa saja berbalik merugikan mereka,” kata Sechin.
Ia menambahkan bahwa pasar energi saat ini semakin dipengaruhi oleh keputusan politik sehingga ketidakpastian masih sangat tinggi.
“Ada banyak risiko. Dan mengingat keputusan politik mulai membentuk indikator fundamental, segala kemungkinan dapat terjadi. Namun, kami siap menghadapi hal tersebut. Saya pikir kami akan mampu mengimbangi sebagian besar pembatasan yang mungkin diberlakukan. Pada saat yang sama, berapa harga bahan bakar di SPBU California nantinya? Itu juga perlu dipertimbangkan,” ujarnya.
Pandangan yang lebih agresif disampaikan mantan Kepala IEA, Nobuo Tanaka. Ia memperkirakan harga minyak berpotensi melonjak ke level yang jauh lebih tinggi apabila gangguan pasokan terus berlanjut.
“Saya pikir harganya dapat mencapai level historis, yaitu lebih dari USD170 per barel, bahkan lebih tinggi, sebelum akhirnya mulai turun. Ini adalah situasi yang sangat, sangat serius. Dan saya percaya Rusia akan menjadi pemain yang sangat penting dalam konteks peningkatan pasokan,” kata Tanaka.
Sementara itu, Menteri Energi Uzbekistan Jorabek Mirzamahmudov menekankan pentingnya menjaga stabilitas pasar energi global. Ia menilai harga minyak masih memiliki peluang untuk kembali ke kisaran USD60 per barel dalam jangka panjang apabila kondisi pasar membaik.
Pendapat serupa juga disampaikan Presiden TOFS Group of Companies David Gadzhimirzaev. Menurutnya, memprediksi harga minyak secara akurat sangat sulit mengingat banyaknya faktor yang memengaruhi pasar.
Ia menyebut sejumlah lembaga keuangan internasional memperkirakan harga minyak berada di rentang USD78–90 per barel apabila mempertimbangkan risiko konflik di Timur Tengah. Namun, jika berbagai faktor guncangan lain mereda, harga diperkirakan bergerak pada kisaran USD60–70 per barel.
Meski demikian, Gadzhimirzaev menilai harga minyak idealnya tidak turun di bawah USD60 per barel demi menjaga keberlanjutan investasi dan produksi di sektor energi global.
(Taufik Fajar)