Harga Minyak Dunia Diprediksi Tetap Tinggi, Krisis Selat Hormuz Jadi Faktor Penentu

Taufik Fajar, Jurnalis
Senin 08 Juni 2026 14:40 WIB
Harga Minyak Dunia Diprediksi Tetap Tinggi (Foto: Okezone)
Share :

JAKARTA - Prospek harga minyak dunia kembali menjadi sorotan dalam Panel Energi yang berlangsung pada ajang St. Petersburg International Economic Forum (SPIEF) 2026. Sejumlah tokoh energi global memperkirakan harga minyak masih berpotensi bergerak tinggi dalam setahun ke depan, terutama akibat ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah dan risiko gangguan pasokan global.

Panel tersebut menghadirkan sejumlah pembicara, antara lain CEO Rosneft Oil Company Igor Sechin, Menteri Energi Uzbekistan Jorabek Mirzamahmudov, mantan Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA) Nobuo Tanaka, serta Presiden TOFS Group of Companies David Gadzhimirzaev.

SPIEF merupakan forum ekonomi tahunan yang mempertemukan pemimpin pemerintahan, pelaku usaha, akademisi, dan tokoh publik untuk membahas berbagai isu strategis ekonomi global. Pada tahun ini, forum berlangsung di St. Petersburg, Rusia, pada 3–6 Juni 2026 dengan fokus pembahasan mencakup ekonomi dunia, teknologi masa depan, stabilitas pasar, dan kerja sama internasional.

Dalam diskusi tersebut, Igor Sechin menilai perkembangan situasi di Selat Hormuz akan menjadi faktor utama yang memengaruhi arah pasar minyak global dalam jangka menengah.

“Jika Anda dapat memberi tahu saya secara pasti berapa lama krisis di Selat Hormuz akan berlangsung, akan lebih mudah bagi kami untuk menentukan dampaknya terhadap harga dari 16 juta barel per hari yang terdampak dari pasar,” ujarnya.

Menurut Sechin, apabila berbagai pembatasan yang berkaitan dengan konflik di Selat Hormuz dapat segera dicabut, harga rata-rata minyak pada akhir tahun berpotensi berada di kisaran USD95–96 per barel.

“Dibutuhkan sekitar enam bulan untuk memulihkan momentum positif. Kemudian, dalam waktu satu tahun, kita kemungkinan akan melihat harga di kisaran USD80–85 per barel. Hal ini karena pemulihan pasokan saja membutuhkan waktu dan investasi yang signifikan. Dengan demikian, pada paruh kedua 2027, barulah kita mungkin dapat berbicara mengenai kembalinya pasar pada indikator fundamentalnya. Saya percaya ini merupakan pendekatan yang lebih objektif dalam melihat pembentukan harga,” kata Igor Sechin.

 

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya