Menurut Prabowo, saat itu terdapat pandangan dari sejumlah kalangan yang menilai impor beras lebih menguntungkan apabila negara lain mampu memproduksi beras dengan biaya lebih rendah dan lebih efisien.
“Waktu itu banyak pakar-pakar yang pintar-pintar, sampai sekarang masih menganggap dirinya pintar, mengatakan untuk apa kita membela petani Indonesia? Kalau petani Indonesia ini kata-kata beliau, bukan Pak Aburizal Bakrie tapi salah satu penasehatnya, 'Kalau petani Indonesia tidak efisien', itu kata-kata beliau. 'Kalau petani Vietnam lebih efisien, lebih baik kita beli beras dari Vietnam'. Itu pandangan orang-orang pintar itu saudara-saudara,” ujarnya.
Pernyataan tersebut, kata Prabowo, membuat dirinya terkejut sekaligus prihatin. Dirinya menilai pandangan yang hanya berpatokan pada efisiensi ekonomi tanpa mempertimbangkan nasib petani merupakan cara pandang yang keliru.
“Saya kaget, saya kaget dan saya sedih. Saya mengatakan dalam hati saya, ini salah besar. Ini tidak mengerti apa arti negara, tidak mengerti apa arti bernegara, tidak mengerti kenapa kita mau merdeka,” pungkasnya.
(Dani Jumadil Akhir)