Kenaikan Harga LNG Ancam Daya Saing Industri dan Nasib Pekerja

Feby Novalius, Jurnalis
Kamis 25 Juni 2026 19:32 WIB
Harga LNG (Foto: Okezone)
Share :

JAKARTA - Kenaikan harga LNG yang dirasakan sebagian pelanggan industri perlu dilihat secara proporsional dan objektif. Pasalnya, tingginya tingginya harga LNG berdampak besar pada kelangsungan bisnis dan mengancam nasib para pekerjanya. 

Kepala Pusat Energi dan Pangan Indef, Abra Talattov menegaskan, isu kenaikan harga LNG harus menjadi momentum memperbaiki tata kelola gas nasional, bukan sekadar mencari pihak yang harus disalahkan. Pemerintah perlu mempertemukan kepentingan industri, pekerja, perusahaan energi nasional, pemasok hulu, penyedia infrastruktur, dan regulator dalam satu kerangka kebijakan yang adil dan berkelanjutan.

“Kuncinya adalah kepastian usaha bagi semua pihak. Industri membutuhkan harga energi yang kompetitif, pekerja membutuhkan perlindungan dari risiko PHK, penyedia gas membutuhkan kepastian komersial agar tetap mampu menjaga pasokan, sementara sektor hulu membutuhkan keekonomian agar investasi gas tetap berjalan. Pemerintah harus menjadi penengah yang adil, bukan sekadar menekan salah satu pihak,” ujar Abra, Kamis (25/6/2026). 

Menurutnya, tekanan harga tidak bisa dilepaskan dari dinamika geopolitik global yang mendorong kenaikan harga energi, termasuk LNG domestik, di tingkat hulu maupun pemasok sebagai konsekuensi dari penerapan formula harga yang merujuk kepada harga energi dunia.

“Kenaikan harga LNG di tingkat konsumen industri tidak terjadi dalam ruang kosong. Ada tekanan besar dari pasar energi global akibat krisis geopolitik, sehingga biaya perolehan LNG di sisi hulu juga meningkat. Karena itu, isu ini perlu dilihat secara utuh dari hulu sampai hilir, bukan hanya dari sisi harga akhir yang diterima industri,” ujar Abra.

Dalam beberapa tahun terakhir pasokan gas pipa untuk kebutuhan industri terus mengalami penurunan. Pada 2024, pasokan gas pipa tercatat sekitar 479 BBTUD, lalu turun 16% menjadi sekitar 400 BBTUD pada 2025. Penurunan tersebut berlanjut pada 2026 menjadi sekitar 327 BBTUD atau turun sekitar 18%. Selain karena kondisi penurunan alamiah (natural decline ), penurunan ketersediaan pasokan gas pipa untuk industri juga dapat dilihat sebagai akibat kebijakan prioritisasi dalam penetapan alokasi yang lebih rendah urutannya dibandingkan untuk sektor kelistrikan. 

 

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya