Neraca Dagang RI Defisit USD1,61 Miliar, Impor Melonjak 22,1 Persen

Anggie Ariesta, Jurnalis
Rabu 01 Juli 2026 13:03 WIB
Neraca perdagangan Indonesia akhirnya mengalami defisit pada Mei 2026. (foto: Okezone.com/Freepik)
Share :

JAKARTA - Neraca perdagangan Indonesia akhirnya mengalami defisit pada Mei 2026, seiring lonjakan impor sebesar 22,16 persen dan penurunan ekspor sebesar 5,73 persen. Kondisi ini sekaligus menjadi defisit perdana setelah mencatat surplus selama 72 bulan berturut-turut.

Impor Mei 2026 Capai USD24,81 Miliar, Naik 22,16 Persen

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor nasional pada Mei 2026 mencapai USD24,81 miliar atau naik 22,16 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan pembelian komoditas migas pada Mei 2026 mencapai USD4,51 miliar atau melonjak 70,78 persen secara tahunan.

Sementara itu, impor nonmigas turut meningkat 14,69 persen dengan nilai mencapai USD20,30 miliar.

“Impor tahunan didorong impor nonmigas dengan andil 12,95 persen,” kata Ateng dalam rilis resmi BPS di Jakarta, Rabu (1/7/2026).

Berdasarkan data BPS, struktur impor menurut penggunaan pada Mei 2026 tumbuh di seluruh kategori secara tahunan, yang mencerminkan peningkatan aktivitas industri dan konsumsi domestik.

Kenaikan tertinggi tercatat pada bahan baku/penolong, disusul barang konsumsi serta barang modal.

“Barang konsumsi naik 21,99 persen, bahan baku/penolong naik 25,17 persen dengan andil 17,41 persen, dan impor barang modal naik 12,70 persen,” ujar Ateng.

Secara kumulatif Januari–Mei 2026, nilai impor Indonesia mencapai USD111,33 miliar, tumbuh 15,24 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Impor masih didominasi nonmigas sebesar USD93,88 miliar atau naik 13,16 persen, sementara impor migas tumbuh lebih tinggi sebesar 27,89 persen menjadi USD17,45 miliar.

Ekspor Mei 2026 Turun 5,73 Persen

BPS juga mencatat nilai ekspor Indonesia pada Mei 2026 sebesar USD23,20 miliar, turun 5,73 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Deputi BPS Ateng Hartono menjelaskan penurunan terutama berasal dari kinerja ekspor nonmigas.

Ekspor nonmigas pada Mei 2026 tercatat sebesar USD22,45 miliar atau turun 4,50 persen dibandingkan Mei 2025.

“Penurunan nilai ekspor Mei terutama didorong oleh ekspor nonmigas. Komoditas logam mulia, perhiasan, dan permata turun 59,35 persen dengan andil -2,93 persen terhadap perubahan total ekspor,” jelas Ateng.

Secara kumulatif Januari–Mei 2026, nilai ekspor Indonesia mencapai USD115,36 miliar, tumbuh 3,02 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Ekspor migas tercatat turun 12,71 persen menjadi USD5,17 miliar, sedangkan ekspor nonmigas tumbuh 3,89 persen menjadi USD110,19 miliar.

Neraca Dagang Mei 2026 Defisit USD1,61 Miliar

Dengan kondisi tersebut, neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 mencatat defisit sebesar USD1,61 miliar. Capaian ini berbalik dari posisi April 2026 yang masih mencatat surplus sebesar USD89,1 juta.

Ateng Hartono menyebut defisit terutama disebabkan oleh sektor migas yang mengalami tekanan cukup dalam.

“Defisit neraca perdagangan terutama disebabkan oleh komoditas migas yang mencatat defisit sebesar USD3,76 miliar. Defisit tersebut berasal dari perdagangan hasil minyak dan minyak mentah,” ujar Ateng.

Sementara itu, neraca perdagangan nonmigas masih mencatat surplus sebesar USD2,15 miliar, yang ditopang oleh komoditas bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewani/nabati, serta besi dan baja.

Namun, lonjakan impor migas yang lebih besar dibandingkan ekspor membuat neraca perdagangan secara keseluruhan berada di zona defisit.

(Feby Novalius)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya