JAKARTA - Kementerian Ekonomi Kreatif terus mendorong hilirisasi produk-produk lokal. Hal ini untuk memperkuat daya saing industri kreatif nasional di pasar global.
Di mana tujuannya tak lain adalah menjadikan Indonesia sebagai pemain di level global, alih-alih hanya menjadi pasar bagi produk-produk asing.
Menurut Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Kemenekraf, Yuke Sri Rahayu, subsektor kuliner masih menjadi penyumbang terbesar bagi Produk Domestik Bruto (PDB) sektor ekonomi kreatif.
"Jadi sampai saat ini, subsektor kuliner masih menjadi kontributor terbesar, dengan pangsa sekitar 41,0 persen terhadap total PDB ekonomi kreatif," kata Yuke dalam keterangannya, Jumat (17/7/2026).
Akan tetapi, Yuke mengakui bahwa saat ini industri kreatif di Tanah Air masih menghadapi beragam tantangan, utamanya dalam meningkatkan nilai tambah produk melalui proses hilirisasi.
Menurut dia, penguatan hilirisasi menjadi hal yang sangat penting, guna membangun brand-brand lokal yang mampu bersaing di tingkat regional maupun global.
"Pasalnya kita tidak ingin Indonesia hanya menjadi pasar bagi merek asing, tapi kita juga harus menjadi pemain utama di tingkat regional maupun global dengan brand-brand yang kuat,” ujarnya.
Sejalan dengan upaya pemerintah memperkuat ekonomi kreatif sebagai salah satu motor pertumbuhan CEO Rasa Group, Sherley Ruslie menyatakan, penting untuk membuat ruang kolaborasi yang mendorong lahirnya inovasi, pengembangan talenta, serta peningkatan daya saing industri F&B Indonesia.