Adapun nilai tukar rupiah di pasar spot bergerak tipis di awal perdagangan hari ini, Jumat (17/7/2026), dengan dibuka di level Rp 17.982 per dolar AS. Seturut itu, harga minyak mentah dunia bergerak di angka 85 dolar AS per barel, setelah sempat menyentuh 100 dolar AS per barel.
Menurut Nailul, stabilitas nilai tukar rupiah ke depan akan sangat bergantung pada disiplin pemerintah dalam menjaga postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Ia memperingatkan bahwa pengelolaan fiskal yang tidak hati-hati berpotensi memicu pelarian modal asing atau capital outflow dan menekan kembali nilai tukar rupiah.
Selain itu, ia menyoroti tren defisit anggaran sebagai indikator utama yang selalu dipantau oleh investor internasional. Nailul mencatat bahwa perbaikan defisit yang terjadi saat ini bersifat sementara karena adanya perlambatan aktivitas belanja pemerintah, khususnya pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama masa libur sekolah.
"Tapi ada juga faktor domestik yaitu pengelolaan APBN. Pengelolaan APBN yangntidak prudent bisa melemahkan rupiah karena investor luar tidak berkenan masuknke dalam negeri. Kemudian, fiskal yang menunjukkan sinyal kuning atau merah bisanmembuat investor keluar dari Indonesia," jelas Huda.
Lebih lanjut, Nailul menyampaikan kekhawatirannya mengenai proyeksi fiskal di paruh kedua tahun 2026. Ia mengantisipasi adanya lonjakan belanja pemerintahnyang masif pasca libur sekolah yang berisiko membuat pengelolaan anggarannmenjadi kurang disiplin jika tidak dimitigasi dengan baik.
"Salah satu sinyalnya adalah defisit anggaran. Saat ini, meskipun defisit anggaran membaik, tapi lebih kepada belanja MBG yang 'libur' selama liburnsekolah. Semester 2 ini, saya khawatir akan jor-joran lagi yang akan berdampaknpada pengelolaan yang tidak prudent lagi. Akhirnya, rupiah bisa jatuh lebih dalam," tutup Huda.
(Taufik Fajar)