JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mulai menunjukkan pergerakan positif dalam beberapa waktu terakhir. Fluktuasi harga minyak mentah dunia yang juga mulai menurun digadang-gadang Pemerintah dapat berefek langsung pada penguatan nilai mata uang Garuda.
Seperti yang diutarakan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa baru-baru ini. Penekanan bendahara negara menyoal turunnya harga minyak mentah dunia dapat menjadi katalis dalam memperbaikinya makro ekonomi domestik dan global, terlebih sentimen positif datang dari hasil penilaian lembaga pemeringkat S&P Global yang mengatakan Mata Uang Garuda rata-rata mencapai Rp17.700 per dolar AS pada 2026.
Dari sana, Purbaya mengharapkan adanya peningkatan dalam neraca dagang dan sebaliknya impor energi bisa dikurangi sehingga meminimalkan penggunaan cadangan devisa.
Namun, faktor penurunan harga minyak bukan satu-satunya katalis penguatan rupiah, dan justru temporer. Sebab ranah fundamental domestik memegang peran yang tak kalah krusial.
Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, menekankan soal penurunan harga minyak mentah memang memberikan angin segar bagi posisi fiskal negara. Namun, ia mengingatkan agar pasar tidak terjebak dalam narasi bahwa faktor eksternal menjadi satu-satunya pendongkrak kurs mata uang garuda.
"Faktor global merupakan salah satu faktor yang menyebabkan rupiah bergerak menguat atau melemah. Faktor global yang menurun tensi perang di timur tengah, bisa menurunkan harga minyak global. Beban APBN bisa menurun, yang pada akhirnyanmenguatkan rupiah karena ada aliran masuk dari investor luar," ujar Nailul Huda kepada iNews Media Group, Jumat (17/7/2026).
Adapun nilai tukar rupiah di pasar spot bergerak tipis di awal perdagangan hari ini, Jumat (17/7/2026), dengan dibuka di level Rp 17.982 per dolar AS. Seturut itu, harga minyak mentah dunia bergerak di angka 85 dolar AS per barel, setelah sempat menyentuh 100 dolar AS per barel.
Menurut Nailul, stabilitas nilai tukar rupiah ke depan akan sangat bergantung pada disiplin pemerintah dalam menjaga postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Ia memperingatkan bahwa pengelolaan fiskal yang tidak hati-hati berpotensi memicu pelarian modal asing atau capital outflow dan menekan kembali nilai tukar rupiah.
Selain itu, ia menyoroti tren defisit anggaran sebagai indikator utama yang selalu dipantau oleh investor internasional. Nailul mencatat bahwa perbaikan defisit yang terjadi saat ini bersifat sementara karena adanya perlambatan aktivitas belanja pemerintah, khususnya pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama masa libur sekolah.
"Tapi ada juga faktor domestik yaitu pengelolaan APBN. Pengelolaan APBN yangntidak prudent bisa melemahkan rupiah karena investor luar tidak berkenan masuknke dalam negeri. Kemudian, fiskal yang menunjukkan sinyal kuning atau merah bisanmembuat investor keluar dari Indonesia," jelas Huda.
Lebih lanjut, Nailul menyampaikan kekhawatirannya mengenai proyeksi fiskal di paruh kedua tahun 2026. Ia mengantisipasi adanya lonjakan belanja pemerintahnyang masif pasca libur sekolah yang berisiko membuat pengelolaan anggarannmenjadi kurang disiplin jika tidak dimitigasi dengan baik.
"Salah satu sinyalnya adalah defisit anggaran. Saat ini, meskipun defisit anggaran membaik, tapi lebih kepada belanja MBG yang 'libur' selama liburnsekolah. Semester 2 ini, saya khawatir akan jor-joran lagi yang akan berdampaknpada pengelolaan yang tidak prudent lagi. Akhirnya, rupiah bisa jatuh lebih dalam," tutup Huda.
(Taufik Fajar)