Mulai 20 Juli, tiga kapal perintis ASDP kembali melayani masyarakat di NTT, yakni KMP Ile Mandiri pada lintasan Kalabahi–Bakalang–Baranusa–Adonara–Lewoleba–Solor–Larantuka (PP), KMP Namparnos pada lintasan Kalabahi–Pura–Teluk Gurita–Maritaing (PP), dan KMP Ile Ape pada lintasan Kewapante–Pulau Besar (PP).
Sementara itu, KMP Uma Kalada yang melayani lintasan Sabu–Raijua–Waingapu (PP) masih menghentikan operasional sementara menyusul imbauan kewaspadaan terhadap cuaca ekstrem demi menjaga keselamatan pelayaran.
Sebelumnya, Pemerintah bersama DPR RI menyepakati tambahan modal yang akan diberikan kepada 2 operator transportasi laut, PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), dan PT Pelni (Persero) untuk memberikan layanan transportasi perintis di wilayah Terluar, Terdepan, Tertinggal, dan Perbatasan (3TP).
Mensesneg Prasetyo Hadi mengatakan, total anggaran yang disepakati untuk diberikan kepada dua operator transportasi laut itu sebesar Rp209 miliar hingga akhir tahun 2026.
"Angka yang dibutuhkan sudah disanggupi oleh Kementerian Keuangan. Untuk ASDP sekitar Rp139 miliar dan untuk Pelni kurang lebih Rp70-an miliar," ujarnya di Kompleks DPR RI, Senin (20/7/2026).
Prasetyo menjelaskan, proses persetujuan anggaran ini berlangsung relatif cepat karena pemerintah memandang layanan kapal perintis sebagai prioritas utama yang menyangkut kebutuhan dasar masyarakat di daerah terpencil.
"Ini bukan sekadar masalah angka, tetapi bentuk prioritas dan atensi utama pemerintah. Kami memutuskan bersama agar anggaran ini langsung dipenuhi untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi teman-teman di ASDP maupun Pelni," lanjutnya.
(Dani Jumadil Akhir)