JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyusun Roadmap Pasar Modal Berkelanjutan Indonesia 2026-2030 sebagai arah pengembangan ekosistem pasar modal yang mendukung investasi berkelanjutan sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat global.
Kepala Departemen Pengawasan Lembaga Efek OJK, Edi Broto Suwarno, menjelaskan roadmap tersebut tidak hanya berfokus pada pengembangan produk keuangan berkelanjutan, tetapi juga memperkuat fondasi pasar modal agar mampu mendorong penerapan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (Environmental, Social, and Governance/ESG) secara lebih luas.
"Di sektor pasar modal, OJK juga tengah menyusun Roadmap Pasar Modal Berkelanjutan Indonesia tahun 2026 sampai 2030. Roadmap ini tidak hanya berfokus pada pengembangan produk keuangan berkelanjutan, tetapi juga nantinya diarahkan untuk memperkuat fondasi ekosistem pasar modal yang mampu mendukung investasi berkelanjutan secara menyeluruh," ujar Edi dalam IDX Channel ESG Conference 2026, Kamis (23/7/2026).
Ia menjelaskan roadmap tersebut dirancang sebagai living document yang dapat terus disempurnakan mengikuti perkembangan industri. Implementasinya akan ditopang oleh empat pilar utama, yakni memperkuat fondasi pasar modal berkelanjutan, mendorong pertumbuhan aktivitas pasar modal berkelanjutan, meningkatkan keterlibatan para pemangku kepentingan, serta memperkuat kolaborasi dalam pengembangan pasar modal berkelanjutan.
Menurut Edi, keempat pilar tersebut akan diterjemahkan ke dalam 15 program prioritas yang menjadi akselerator integrasi ESG di pasar modal Indonesia.
Program-program tersebut mencakup peningkatan integrasi ESG dalam aktivitas bisnis emiten, penguatan kualitas pengungkapan informasi keberlanjutan, pengembangan berbagai instrumen pembiayaan berkelanjutan, peningkatan kapasitas seluruh pelaku pasar, hingga perluasan kolaborasi lintas pemangku kepentingan.
"Visi akhirnya adalah membangun ekosistem pasar modal Indonesia yang berkelanjutan dan berdaya saing secara global," katanya.
Lebih lanjut, Edi menegaskan keberhasilan transformasi menuju ekonomi berkelanjutan tidak dapat dicapai hanya oleh regulator. Menurutnya, dukungan dari seluruh pelaku industri, mulai dari emiten, investor, lembaga jasa keuangan, hingga mitra pembangunan menjadi faktor penting dalam mewujudkan pasar modal yang lebih berkelanjutan.
"Semakin kuat sinergi yang kita bangun, semakin besar pula peluang Indonesia menjadi salah satu pusat investasi berkelanjutan di kawasan ini," ujarnya.
Edi menambahkan, langkah tersebut diharapkan dapat mendukung pembangunan ekonomi nasional yang inklusif, tangguh, dan berkelanjutan, sekaligus meningkatkan daya tarik pasar modal Indonesia di mata investor domestik maupun global.
(Feby Novalius)