Sejak 2022, PLN EPI telah membangun ekosistem biomassa melalui kemitraan dengan pemerintah daerah, kelompok tani, koperasi, BUMDes, dan pelaku usaha swasta. Biomassa yang dikumpulkan diproses melalui berbagai fasilitas produksi sebelum dimanfaatkan sebagai bahan bakar co-firing pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).
Di samping itu, perusahaan juga mengembangkan Compressed Biogas (CBG) berbasis limbah sawit, biochar, serta berbagai inisiatif waste-to-energy sebagai bagian dari penguatan rantai pasok bioenergi nasional.
Dalam roadmap pengembangan bioenergi, PLN EPI menempatkan hidrogen dan amonia sebagai salah satu pilar bisnis masa depan. Tahap pengembangan teknologi akan dilakukan secara bertahap pada periode 2026–2030, meliputi studi kelayakan, pilot project, hingga uji coba pemanfaatan hidrogen dan amonia pada pembangkit listrik sebagai fondasi menuju tahap komersialisasi.
Hokkop menegaskan bahwa pengembangan biohidrogen membutuhkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah, penyedia teknologi, lembaga pembiayaan, akademisi, hingga industri pengguna.
"Kami telah menyiapkan roadmap serta membangun kemitraan dengan berbagai penyedia teknologi. Tantangan berikutnya adalah membangun ekosistem yang kuat melalui kolaborasi agar potensi biomassa Indonesia dapat dioptimalkan menjadi fondasi industri hidrogen rendah karbon di masa depan," ujarnya.
(Dani Jumadil Akhir)