Ketegangan di sektor energi global tersebut semakin diperberat oleh kuatnya perekonomian AS yang tercermin dari data tenaga kerja terbaru. Kondisi ini memicu kekhawatiran pelaku pasar bahwa bank sentral AS, Federal Reserve, akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama.
"Klaim pengangguran awal AS secara tak terduga turun ke 187.000, yang merupakan level terendah dalam beberapa dekade, sehingga mendorong imbal hasil obligasi Treasury tenor 10 tahun ke level tertinggi sejak Januari 2025. Data pasar tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan ini menambah kekhawatiran bahwa Federal Reserve dapat mempertahankan sikap kebijakan yang restriktif," terang Ibrahim.
Sementara dari dalam negeri, Ibrahim menilai tekanan terhadap rupiah meningkat seiring tingginya kebutuhan impor energi nasional yang melampaui asumsi anggaran negara. Beban fiskal tersebut juga diperberat oleh defisit neraca perdagangan yang terjadi untuk pertama kalinya dalam enam tahun terakhir akibat meningkatnya impor bahan baku industri.
"Secara internal, kebutuhan impor energi RI yang melebihi 1,5 juta barel per hari saat harga minyak di atas target APBN-P sebesar USD83 per barel membuat pemerintah harus menambah kebutuhan dolar AS," katanya.
"Kondisi ini diperparah oleh data BPS yang mencatat defisit neraca perdagangan sebesar USD1,61 miliar pada Mei 2026, mengakhiri surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Defisit terjadi karena ekspor turun 5,73% menjadi USD23,2 miliar, sementara impor melonjak 22,16% menjadi USD24,81 miliar, yang didominasi bahan baku dan barang modal," imbuhnya.