Kenaikan impor bahan baku dan bahan penolong yang mencapai USD17,58 miliar atau tumbuh 25,17% secara tahunan (year on year/YoY), serta impor barang modal sebesar USD5 miliar atau naik 12,7% YoY, berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan dan menekan nilai tukar rupiah pada kuartal III 2026.
Meski dibayangi perlambatan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2026 menjadi 5,4%, pemerintah tetap optimistis laju perekonomian akan membaik pada semester berikutnya.
Mempertimbangkan dinamika fiskal dan tingginya volatilitas pasar keuangan global, Ibrahim memperkirakan pergerakan nilai tukar rupiah masih akan berada dalam tren pelemahan pada perdagangan pekan depan.
"Pemerintah optimistis pertumbuhan membaik pada semester II ditopang likuiditas yang memadai dan kebijakan fiskal yang prudent. Namun, untuk perdagangan Senin depan, rupiah diprediksi bergerak fluktuatif dan ditutup melemah di kisaran Rp17.960-Rp18.020 per dolar AS, sedangkan untuk sepekan ke depan diperkirakan berada pada rentang Rp17.880-Rp18.250 per dolar AS," ujar Ibrahim.
(Feby Novalius)