Bank Jakarta dan Jalan Baru Menuju Kota Global

Dani Jumadil Akhir, Jurnalis
Sabtu 25 Juli 2026 15:03 WIB
Bank Jakarta dan Jalan Baru Menuju Kota Global (Foto: Dokumentasi Bank jakarta)
Share :

JAKARTA - Pagi hari di Jakarta dimulai dengan satu sentuhan di layar ponsel. Membayar MRT, membeli kopi, membayar parkir, hingga mentransfer dana kepada mitra usaha, semuanya berlangsung dalam hitungan detik. 

Di balik aktivitas yang tampak sederhana itu, ada transformasi besar yang sedang mengubah wajah layanan keuangan ibu kota. Ada satu fondasi yang menentukan apakah sebuah kota mampu bergerak cepat mengikuti zaman: sistem keuangan yang digital, efisien, dan dipercaya masyarakat.

Di tengah lanskap baru tersebut, Bank Jakarta memilih untuk tidak sekadar mengikuti perkembangan teknologi. Bank pembangunan daerah milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ini tengah membangun identitas baru sebagai institusi keuangan modern yang menjadi bagian dari transformasi ekonomi digital ibu kota.

Langkah itu menjadi penting. Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan nilai transaksi pembayaran digital nasional terus tumbuh dua digit dalam beberapa tahun terakhir, didorong meningkatnya penggunaan mobile banking, QRIS, dan berbagai layanan pembayaran elektronik. Perubahan tersebut memperlihatkan bahwa kecepatan, kemudahan, dan keamanan kini menjadi standar baru layanan keuangan.

Perubahan perilaku masyarakat itu tercermin pada data Bank Indonesia. Pada triwulan II-2026, volume transaksi pembayaran digital melalui aplikasi mobile dan internet mencapai 16,07 miliar transaksi, tumbuh 36,88 persen secara tahunan. Sementara transaksi QRIS melonjak hingga 100,12 persen, menandakan pembayaran digital telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat.

Bagi bank daerah, perubahan itu menghadirkan tantangan sekaligus peluang. Jika gagal beradaptasi, bank pembangunan daerah akan tertinggal di tengah persaingan dengan bank nasional maupun perusahaan teknologi finansial. Sebaliknya, jika mampu membaca perubahan perilaku masyarakat, bank daerah justru memiliki keunggulan karena memahami karakter ekonomi lokal lebih baik dibanding pemain lain.

Di titik inilah transformasi Bank Jakarta menemukan relevansinya.

Financial Operating System Kota Global

Transformasi itu kemudian diterjemahkan ke dalam sebuah visi yang lebih besar. Bank Jakarta tidak lagi ingin dipandang sekadar sebagai penyedia layanan perbankan, melainkan sebagai financial operating system yang menghubungkan masyarakat, pelaku usaha, pemerintah, hingga investor dalam satu ekosistem digital.

Direktur Utama Bank Jakarta Agus H Widodo mengatakan, transformasi digital tidak hanya menghadirkan layanan perbankan yang lebih cepat dan mudah, tetapi juga menjadi fondasi untuk memperkuat konektivitas ekonomi Jakarta sebagai kota global.

Menurut Agus, fokus digitalisasi Bank Jakarta diwujudkan melalui empat strategi utama, yakni memperluas inklusi keuangan berbasis digital, memperkuat ekosistem UMKM melalui akses pembiayaan dan digitalisasi usaha, memperluas pembiayaan perumahan (housing inclusion), serta mendorong iklim investasi yang lebih kuat.

"Bank Jakarta ingin menjadi financial operating system bagi Jakarta yang menghubungkan berbagai peluang dan kebutuhan masyarakat dalam satu ekosistem keuangan yang terintegrasi," ujarnya di Jakarta belum lama ini.

Dia menegaskan transformasi digital harus bersifat inklusif sehingga seluruh lapisan masyarakat, mulai dari UMKM, pedagang kecil hingga generasi muda, dapat menikmati manfaat layanan keuangan modern. Dengan demikian, teknologi tidak hanya meningkatkan efisiensi transaksi, tetapi juga membuka akses ekonomi yang lebih luas.

Melalui langkah tersebut, Bank Jakarta ingin memperkuat perannya tidak hanya sebagai lembaga perbankan, tetapi juga sebagai katalis pembangunan ekonomi digital yang mendukung terwujudnya Jakarta sebagai kota global yang cerdas, inklusif, dan berkelanjutan.

 

Dari Bank Daerah Jadi Bank Digital Berdaya Saing Global

Direktur Teknologi & Operasional Bank Jakarta Daniel Setiawan Subianto mengatakan, perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat membuat transformasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.

"Kami menyadari ekspektasi terhadap Bank Jakarta terus meningkat. Oleh sebab itu, tidak ada opsi lain selain bertransformasi dan berinovasi secara konsisten," ujarnya.

Komitmen tersebut diterjemahkan melalui penguatan infrastruktur digital, modernisasi sistem operasional, hingga pengembangan layanan yang semakin berpusat pada pengalaman nasabah.

Salah satu langkah paling strategis adalah peluncuran Kartu Debit Visa Bank Jakarta pada awal 2026. Peluncuran Kartu Debit Visa bukan sekadar penambahan produk. Bagi sebuah bank pembangunan daerah, langkah tersebut menandai perubahan identitas: dari bank yang selama ini identik melayani kebutuhan lokal menjadi institusi keuangan yang siap menghubungkan masyarakat Jakarta dengan ekosistem pembayaran global.

Dengan jaringan Visa yang menjangkau lebih dari 200 negara dan wilayah, nasabah kini memiliki keleluasaan bertransaksi lintas negara tanpa harus meninggalkan bank daerah yang selama ini menjadi mitra keuangan mereka.

Bagi Bank Jakarta, kolaborasi tersebut menandai babak baru: dari bank pembangunan daerah yang identik dengan layanan konvensional menuju institusi keuangan yang mampu bersaing di era ekonomi digital.

"Bank Jakarta terus mendorong inovasi produk dan layanan perbankan digital, termasuk peluncuran Kartu Debit Visa Bank Jakarta di awal tahun 2026," kata Daniel.

Mengubah Cara Melayani

Transformasi Bank Jakarta juga terlihat dari perubahan cara melayani nasabah.

Melalui New Look Branch di Kantor Cabang Pembantu Kebayoran Park, Bank Jakarta memperkenalkan konsep layanan Modern, Accessible, Connected yang menggabungkan kenyamanan ruang fisik dengan efisiensi layanan digital.

Direktur Utama Bank Jakarta Agus H Widodo mengatakan, perubahan tersebut merupakan simbol transformasi yang lebih besar.

"Hari ini kita tidak sekadar meresmikan sebuah gedung, yang berubah bukan hanya wajah kantor cabang, tetapi juga cara kami melayani masyarakat," ujarnya.

Menurut Agus, masyarakat saat ini tidak lagi menilai kualitas bank dari megahnya kantor cabang, melainkan dari kemudahan memperoleh layanan.

Karena itu, model kantor cabang generasi baru dirancang agar proses layanan menjadi lebih sederhana, lebih cepat, lebih personal, dan semakin terdigitalisasi.

"Kami tidak sedang membangun cabang yang lebih indah, tetapi cabang yang lebih relevan dengan cara hidup masyarakat Jakarta saat ini," katanya.

 

Digitalisasi yang Menggerakkan Ekonomi Kota

Transformasi digital bukan hanya menghadirkan aplikasi atau kartu pembayaran baru. Dampaknya jauh lebih luas karena menyentuh hampir seluruh aktivitas ekonomi perkotaan.

Bagi pemerintah daerah, digitalisasi mempercepat proses pembayaran pajak dan retribusi secara elektronik sehingga pengelolaan pendapatan menjadi lebih transparan, akuntabel, dan efisien.

Bagi masyarakat, transaksi dapat dilakukan kapan pun tanpa harus datang ke kantor cabang.

Sementara bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), sistem pembayaran digital membuka peluang memperluas pasar sekaligus membangun rekam jejak transaksi yang menjadi pintu masuk memperoleh akses pembiayaan.

Inilah mengapa transformasi digital perbankan tidak lagi sekadar isu teknologi, melainkan bagian dari pembangunan ekonomi daerah.

Setiap transaksi digital yang berlangsung sesungguhnya menciptakan efisiensi baru, mempercepat perputaran ekonomi, dan memperkuat inklusi keuangan.

Kepercayaan Menjadi Utama

Di tengah derasnya inovasi digital, satu hal tetap tidak berubah dalam industri perbankan: kepercayaan.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menilai kolaborasi Bank Jakarta dengan Visa menjadi bukti bahwa bank daerah mampu dikelola secara profesional sekaligus siap bersaing di tingkat global.

"Ini menunjukkan bahwa Bank Jakarta dikelola semakin profesional. Dengan bekerja sama dengan Visa, transaksi dapat dilakukan di mana saja," ujarnya.

Menurut Pramono, inovasi teknologi tidak akan berarti apabila tidak dibangun di atas tata kelola perusahaan yang baik.

Karena itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberikan ruang independensi kepada Direksi dan Dewan Komisaris Bank Jakarta agar mampu mengembangkan perusahaan secara profesional dan adaptif terhadap perubahan industri.

Ia menegaskan bahwa aset terbesar industri perbankan bukanlah teknologi, melainkan kepercayaan masyarakat.

"Mudah-mudahan dengan kerja sama ini, kita semua merasa yakin Kartu Debit Visa Bank Jakarta benar-benar bisa dipercaya untuk kelas global," katanya.

Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa transformasi digital tidak hanya berbicara mengenai inovasi, tetapi juga mengenai keamanan siber, perlindungan data pribadi, stabilitas sistem, dan kualitas pelayanan.

 

Infrastruktur Digital sebagai Fondasi

Sekretaris Perusahaan Bank Jakarta Arie Rinaldi mengatakan, penguatan infrastruktur digital menjadi prioritas agar seluruh inovasi dapat berjalan secara optimal.

"Kami berkomitmen untuk terus memperkuat infrastruktur digital kami guna memastikan pelayanan yang lebih cepat, aman, dan andal bagi seluruh nasabah," ujarnya.

Komitmen tersebut menunjukkan bahwa digitalisasi bukan sekadar menghadirkan fitur baru, tetapi membangun fondasi teknologi yang mampu menjaga kepercayaan masyarakat dalam jangka panjang.

Mesin Baru Menuju Kota Global

Transformasi digital Bank Jakarta sesungguhnya bukan hanya tentang perubahan institusi perbankan. Yang sedang dibangun adalah fondasi ekonomi kota.

Kota global bukan hanya dibangun oleh gedung yang menjulang tinggi atau jalan yang semakin modern. Kota global dibangun ketika masyarakat dapat bertransaksi tanpa hambatan, pelaku usaha tumbuh karena akses keuangan yang semakin terbuka, dan pemerintah mampu melayani publik secara lebih transparan. 

Melalui transformasi digital yang dijalankannya, Bank Jakarta tidak sekadar mengikuti perubahan zaman. Bank Jakarta sedang memastikan setiap transaksi menjadi bagian dari perjalanan Jakarta menuju kota global yang inklusif, modern dan berdaya saing.

Bagi sebagian orang, transformasi digital mungkin hanya berarti aplikasi yang lebih cepat atau kartu pembayaran yang lebih modern. Namun bagi pedagang kecil yang kini menerima pembayaran nontunai, bagi pekerja yang dapat bertransaksi lintas negara, atau bagi warga yang membayar layanan publik tanpa harus mengantre, digitalisasi menghadirkan sesuatu yang lebih besar: waktu yang lebih efisien, akses yang lebih luas, dan kepercayaan terhadap layanan keuangan yang semakin kuat.

Pada akhirnya, transformasi digital bukan hanya mengubah cara masyarakat bertransaksi, tetapi juga menentukan seberapa siap Jakarta melangkah sebagai kota global. Di titik itulah Bank Jakarta berusaha mengambil peran: bukan sekadar sebagai penyedia layanan keuangan, melainkan sebagai penghubung ekosistem yang menggerakkan ekonomi ibu kota.
 

(Dani Jumadil Akhir)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya