Sinergi Fiskal-Moneter demi Jaga Stabilitas Rupiah dan Ekonomi

Dani Jumadil Akhir, Jurnalis
Rabu 29 Juli 2026 17:13 WIB
Sinergi Fiskal-Moneter demi Jaga Stabilitas Rupiah dan Ekonomi (Foto: Dokumentasi)
Share :

Ekonom Senior Prasasti Center for Policy Studies Piter Abdullah menekankan pentingnya langkah mitigasi risiko (hedging) bagi korporasi dan lembaga keuangan di tengah volatilitas nilai tukar yang dipicu oleh eskalasi geopolitik global. Ketidakpastian pasar global telah berdampak pada kenaikan credit default swap (CDS) domestik serta tekanan terhadap mata uang rupiah.

"Upaya mitigasi dari perkembangan dan pelemahan nilai tukar rupiah itu adalah hedging. Ini adalah upaya korporasi dan lembaga keuangan untuk melindungi nilai aset dan investasinya dari risiko pelemahan nilai tukar," jelas Piter. 

Piter melanjutkan, sistem keuangan dan perbankan domestik saat ini telah menyediakan berbagai instrumen lindung nilai yang dapat dimanfaatkan pelaku usaha. Antara lain Forex Forward, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), FX Swap, FX Option, Cross Currency Swap, hingga Interest Rate Swap.

“Sinergi yang solid antara kebijakan fiskal yang adaptif, kebijakan moneter yang kredibel dan independen, serta pengawasan sektor keuangan yang kuat diharapkan mampu menjaga ketahanan ekonomi nasional agar tetap prudent, resilient, dan teruji,” ujar Piter.

Dari sisi pelaku perbankan, di tengah ketidakpastian ini, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) menajamkan fokus strategi pembiayaan dengan menyeimbangkan ekspansi bisnis, efisiensi operasional, serta manajemen risiko terukur. Langkah ini diambil untuk memastikan pertumbuhan perseroan tidak hanya efektif secara kuantitatif, tetapi juga menjaga kualitas pembiayaan, likuiditas yang sehat, serta memberikan dampak nyata terhadap perekonomian nasional.

"Transformasi pembiayaan syariah perlu diarahkan dari sekadar mengejar ekspansi untuk menumbuhkan pertumbuhan yang lebih efektif, tetapi juga harus berkualitas, profitable, dan memberikan dampak yang nyata terhadap perekonomian. Kami menjaga keseimbangan antara pertumbuhan, kualitas pembiayaan, likuiditas, inklusi keuangan, dan juga agenda pembangunan nasional," ujarWakil Direktur Utama BSI Bob Tyasika Ananta

Bob melanjutkan, di tengah ketidakpastian global dan domestik, BSI melihat peluang pertumbuhan tetap terbuka lebar, khususnya melalui kredit atau pembiayaan investasi, sektor produktif yang tangguh (resilient), serta program-program prioritas pemerintah. Sektor perumahan menjadi salah satu contoh penguatan rantai pasok. 

“Melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) Perumahan, BSI menyasar aspek demand untuk kepemilikan rumah oleh masyarakat, sekaligus memperkuat sisi supply dengan mendanai toko bangunan hingga agen properti, meski portofolio perseroan didominasi oleh segmen demand, “ tandas Bob.

Selain sektor perumahan, BSI juga mengambil peran aktif dalam mendukung operasional Program MBG. BSI menyiapkan dukungan pembiayaan Surat Perintah Kerja (SPK) sebesar Rp444 miliar yang dialokasikan ke 296 Dapur MBG di berbagai wilayah Indonesia.

(Dani Jumadil Akhir)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya