Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi pada triwulan II akan ditopang oleh fundamental ekonomi yang kuat. Sejumlah indikator seperti peningkatan konsumsi rumah tangga hingga realisasi investasi dinilai mampu mempercepat akselerasi perekonomian.
Airlangga menitikberatkan sejumlah faktor, mulai dari inflasi yang terkendali, surplus neraca perdagangan yang telah berlangsung selama 70 bulan berturut-turut, hingga tingkat kepercayaan konsumen yang tinggi. Sejalan dengan itu, konsumsi rumah tangga menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi dengan kontribusi sebesar 54 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
"Proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini di atas 5,3 persen. Dan pada kuartal pertama tahun ini, optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 5,5 persen," tutur Airlangga.
Dia juga menjelaskan bahwa sektor manufaktur masih berada dalam fase ekspansi dengan indeks 50,1, diikuti oleh posisi cadangan devisa yang tetap kuat sebesar USD148,2 miliar.
Sektor perbankan juga turut menjadi perhatian, seiring kondisi yang tetap solid dengan rasio permodalan kuat dan risiko kredit yang terkendali. Risiko tersebut dapat ditekan melalui penerapan prinsip kehati-hatian dalam pemberian pinjaman.