JAKARTA - Neraca perdagangan Indonesia diperkirakan kembali mengalami defisit pada Juni 2026. Neraca perdagangan diproyeksikan defisit sebesar USD1,00 miliar, lebih rendah dibandingkan defisit pada Mei 2026 yang mencapai USD1,61 miliar.
Penyebab utama defisit ini ditengarai berasal dari laju pertumbuhan impor yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekspor nasional.
Head of Macroeconomics & Market Research Permata Bank, Faisal Rachman, memperkirakan ekspor Indonesia pada Juni 2026 tumbuh 1,86 persen secara tahunan (year on year/yoy), membaik dari kontraksi 5,73 persen yoy pada bulan sebelumnya.
"Meskipun harga komoditas ekspor utama, termasuk batu bara dan crude palm oil (CPO), telah normal, permintaan eksternal tetap relatif tangguh. PMI manufaktur di seluruh mitra dagang utama Indonesia pada Juni 2026 terus menunjukkan ekspansi, yang mengindikasikan permintaan eksternal yang sehat," kata Faisal dalam risetnya, dikutip Minggu (2/8/2026).
Di sisi lain, kinerja impor diperkirakan terus meningkat di tengah kuatnya permintaan domestik. Faisal memproyeksikan impor Indonesia pada Juni 2026 tumbuh 28,66 persen yoy, meningkat dari 22,16 persen yoy pada Mei 2026.