JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan turunannya (HS 1511) tetap mengalami pertumbuhan pada semester I-2026, meski lajunya melambat dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
Menurut Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono, nilai ekspor CPO pada semester I-2026 tumbuh sebesar 7,32 persen. Angka ini melambat dibandingkan pertumbuhan pada semester I-2025 yang mencapai 24,80 persen.
"Ini artinya nilai ekspor CPO pada semester I masih mengalami kenaikan ya, tadi 7,3 persen. Namun saya ulangin, jika pertumbuhannya dibandingkan dengan semester I tahun 2025, maka pertumbuhan pada semester I tahun 2026 mengalami perlambatan. Jadi kalau tadinya tumbuh cepat, sekarang tumbuh di bawahnya. Sama-sama tumbuh, tetapi pertumbuhannya mengalami perlambatan," kata Ateng dalam Rilis BPS di Jakarta, Senin (3/8/2026).
Terkait kebijakan mandatori biodiesel 50 persen (B50) yang mulai diimplementasikan pada Juli 2026, BPS menilai kebijakan tersebut berpotensi memengaruhi volume ekspor produk kelapa sawit Indonesia, khususnya pada paruh kedua tahun ini.
Meski demikian, BPS tidak memberikan estimasi kuantitatif mengenai besarnya penurunan ekspor dan menekankan pentingnya kajian lebih lanjut berdasarkan data realisasi.
"Namun untuk penerapan B50 yang akan dimulai, kita tahu bersama pada bulan Juli 2026, ini cenderung berpotensi akan memengaruhi volume ekspor produk minyak kelapa sawit Indonesia, khususnya nanti pada semester II tahun 2026," ujar Ateng.
Ia menambahkan, dampak pasti dari penerapan B50 akan bergantung pada sejumlah variabel industri.