Selain menjamin keamanan modal, Hashim mengajak industri manufaktur dan korporasi Thailand untuk memanfaatkan pasar karbon domestik. Fasilitas perdagangan karbon ini dibuka luas guna membantu entitas bisnis global memenuhi pemenuhan kredit offset emisi.
"Kami telah memulai pasar karbon sejak 9 Juli agar mereka yang perlu mengompensasi emisi dapat membeli kredit melalui pasar karbon Indonesia, dan hal ini tentu ditawarkan kepada perusahaan serta manufaktur Thailand," tutur Hashim.
Langkah penguatan bursa karbon tersebut didukung oleh pengesahan perundang-undangan iklim domestik serta keikutsertaan aktif Indonesia dalam forum COP31 Konferensi Para Pihak tentang Iklim.
Hashim menambahkan soal kemitraan kedua negara telah teruji oleh berbagai krisis sejarah, mulai dari krisis keuangan 1997 hingga tingginya keterikatan rantai pasok industri seperti pergerakan sektor otomotif. Gejolak harga energi global terkini akibat penutupan Selat Hormuz makin mendorong urgensi kolaborasi bilateral untuk menahan guncangan eksternal.
"Kita berbagi nasib yang sama, mulai dari krisis sejarah hingga dampak penutupan Selat Hormuz pada harga energi dan komoditas, sehingga ada dorongan lebih besar bagi kita untuk berkolaborasi membentengi diri dari guncangan eksternal," tutur Hashim.
(Dani Jumadil Akhir)