Menko Airlangga Tepis Rapuhnya Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II-2026

Rohman Wibowo, Jurnalis
Rabu 05 Agustus 2026 20:04 WIB
Menko Airlangga (Foto: Okezone)
Share :

Untuk meredam guncangan harga minyak mentah akibat konflik Selat Hormuz, APBN ditempatkan sebagai bantalan peredam atau shock absorber untuk mengamankan daya beli masyarakat. Implementasi kebijakan energi juga ditekan untuk mengurangi ketergantungan impor, sekaligus menjaga kecukupan subsidi BBM hingga akhir tahun.

"APBN sebagai shock absorber menjaga resiliensi BBM di mana penerapannya B50 membuat kita tidak lagi impor solar, sedangkan harga Pertalite dijamin aman sampai bulan Desember," kata dia.

Adapun sebelumnya, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyoroti disrupsi pada rantai pasok dan permintaan pasar menahan mayoritas industri untuk melakukan ekspansi, meskipun beberapa sektor masih mampu tumbuh secara terbatas. Kondisi ini membuat tren ekspansi belum menjadi hal arus utama di tengah iklim usaha yang cenderung defensif.

Terbatasnya ruang ekspansi industri tecermin dari indikator PMI Manufaktur S&P Juli 2026 yang berada di kisaran tipis di atas batas ekspansi, yakni 50,2. Apindo lantas mendorong pemerintah untuk bersama-sama mengawal momentum pertumbuhan agar tren industri berbalik menjadi lebih solid dan eksponensial.

"Kondisi ini tercermin dalam PMI Manufaktur keluaran S&P per Juli yang ekspansinya relatif modest di level 50,2. Pertumbuhan di Q2 ini sifatnya baru dan relatif fragile sehingga perlu dijaga momentumnya agar lebih solid mendongkrak tren industri yang masih defensif," urai Ketua Apindo Shinta Kamdani, Rabu.

(Taufik Fajar)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya