Indeks Dolar AS Diproyeksikan Berfluktuasi Tinggi hingga Bayangi Rupiah Pekan Depan

Anggie Ariesta, Jurnalis
Minggu 16 Agustus 2026 14:16 WIB
Rupiah (Foto: Okezone)
Share :

Ibrahim menjelaskan bahwa dinamika geopolitik global menjadi pemicu utama potensi penguatan indeks dolar AS sekaligus minyak mentah dunia. Ketegangan yang terjadi mencakup eskalasi hubungan AS-Iran, konflik di Laut Merah yang melibatkan kelompok Houthi, penyerangan kilang minyak di Nigeria, hingga situasi perang Rusia-Ukraina yang terus memanas.

“Dan di hari Senin kemungkinan besar pasar akan tertuju terhadap data eksternal terutama dalam geopolitik di Timur Tengah yang semakin memanas dan ini akan membuat dolar itu menjadi gain up. Dolar Amerika akan mengalami penguatan sehingga berdampak terhadap pelemahan mata uang rupiah di pembukaan hari Senin,” ungkapnya.

Di samping isu geopolitik, pergerakan mata uang juga dipengaruhi oleh proyeksi kebijakan bank sentral AS (The Fed). Meskipun rilis data inflasi dan penjualan ritel AS terkini menunjukkan tren pencapaian yang membaik, Ibrahim menilai mayoritas anggota The Fed diproyeksikan akan mempertahankan tingkat suku bunga acuan pada pertemuan bulan ini.

Selain itu, Ibrahim memberikan catatan khusus terhadap kerangka asumsi makro RUU APBN 2027 yang disampaikan pemerintah. Salah satunya terkait dengan penetapan asumsi nilai tukar rupiah sebesar Rp17.500 per dolar AS.

Ibrahim menilai terdapat tantangan cukup berat untuk menjaga pergerakan mata uang domestik berada di bawah batas asumsi tersebut jika ketegangan global terus berlanjut.

“Saya melihat bahwa ada kemungkinan besar yang di tahun 2027 rupiah itu kemungkinan di atas 18.000. Nah artinya apa? Ini pun juga kalau seandainya rupiah masih di atas 17.500 ini kemungkinan besar akan membuat defisit anggaran... kemungkinan besar akan lebih dari 2,86 (persen) apabila rupiah terus mengalami pelemahan,” tegas Ibrahim.

Hal senada juga disampaikannya terkait asumsi harga minyak mentah Indonesia (ICP) yang ditetapkan 75 dolar AS per barel pada RAPBN 2027.

Menurutnya, konflik geopolitik yang berlarut di kawasan strategis pasokan energi berpotensi mendorong harga minyak mentah dunia bertahan di atas level 80 dolar AS per barel, yang dapat memberikan tekanan tambahan bagi efektivitas eksekusi postur anggaran negara.

(Taufik Fajar)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya