Ekspor Dua Kuda Indonesia Senilai USD10 Juta Tertahan, Ada Apa?

Dani Jumadil Akhir, Jurnalis
Minggu 16 Agustus 2026 20:41 WIB
Ekspor Dua Kuda Indonesia Senilai USD10 Juta Tertahan, Ada Apa? (Foto: Freepik)
Share :

Stok Terus Menipis, Tahap Ketiga Going Concern 

Dari sisi operasional, Ridwan menyebut persediaan produk yang diketahui serikat pekerja saat ini sekitar 5.000 ton. Produk mulai dijual ke pasar domestik karena ekspor belum dapat berjalan normal.

Kondisi tersebut membuat serikat pekerja meminta agar tahap ketiga going concern segera mendapatkan persetujuan.

“Stok sendiri makin hari makin menipis karena memang penjualan terus berjalan. Makanya tadi kita menekankan kepada kurator agar segera disetujui tahap ketiganya,” katanya.

Serikat pekerja menilai keberlanjutan produksi membutuhkan kepastian pasokan bahan baku sekaligus kelancaran penjualan, terutama melalui pasar ekspor.

Berdasarkan keterangan, produk yang tidak dapat diekspor diperkirakan mencapai sekitar 7.815 ton, dengan nilai sekitar USD10 juta. Angka tersebut merupakan estimasi yang disampaikan dalam materi wawancara dan masih memerlukan konfirmasi lebih lanjut dari pihak manajemen untuk memastikan nilai serta rincian komoditas yang terdampak.

Ridwan sebelumnya juga menjelaskan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara harga penjualan domestik dan ekspor. Karena itu, terhambatnya ekspor dinilai berpotensi mengurangi nilai penerimaan perusahaan.

Di tengah persoalan operasional dan kepailitan, Ridwan memastikan pembayaran gaji dan tunjangan pekerja sejauh ini masih berjalan normal. “Kalau untuk pembayaran gaji sendiri, plus tunjangan-tunjangan, sampai saat ini masih berjalan normal,” ujarnya.

Namun, pembayaran BPJS sempat mengalami keterlambatan. Meski demikian, Ridwan menyebut kondisi tersebut masih dianggap dalam batas yang dapat ditoleransi karena berkaitan dengan proses administrasi dan pembayaran.

Menurutnya, keberlangsungan going concern sangat penting bukan hanya bagi perusahaan dan kreditur, tetapi juga bagi keberlangsungan pekerjaan dan penghasilan para pekerja.

Sementara itu, Ridwan mengatakan pertemuan terbaru dengan pihak kurator memang menunjukkan adanya ruang komunikasi yang lebih terbuka. Namun, menurut penilaian serikat pekerja, belum terdapat perubahan konkret dalam penyelesaian persoalan.

“Sampai saat ini yang kita baca atau kita lihat dari kurator sendiri masih sama. Artinya kinerjanya secara profesionalitasnya sepertinya kurang menurut kita,” katanya.

Ia juga mempertanyakan efektivitas going concern apabila perusahaan diperbolehkan membeli bahan baku dan berproduksi, tetapi hasil produksi tidak dapat diekspor.

Menurut Ridwan, seluruh kegiatan ekspor perusahaan saat ini terdampak oleh persoalan tersebut. Ia memperkirakan bahan baku yang sebelumnya masuk sekitar 6.000 ton dapat menghasilkan sekitar 7.000 ton lebih produk setelah melalui proses pengolahan.

Jika jalur ekspor kembali terbuka, serikat pekerja menilai produk tersebut dapat segera terserap pasar dan perputaran produksi serta penjualan perusahaan kembali berjalan lebih normal. “Harusnya memang sudah habis kalau ekspor ini dibuka. Barang sudah habis dan sirkulasi produksi penjualan itu normal,” ujar Ridwan.

Serikat pekerja kini masih mengevaluasi langkah selanjutnya sembari menunggu perkembangan komunikasi antara kurator, Kementerian Hukum, manajemen dan pihak terkait.

Ridwan mengatakan pihak pekerja mengharapkan persoalan yang menghambat ekspor segera mendapatkan solusi konkret, terutama menyangkut penyelesaian kewajiban kepabeanan dan persetujuan tahap ketiga going concern.

Menurutnya, keberhasilan going concern seharusnya diukur bukan hanya dari kemampuan perusahaan memproduksi barang, tetapi juga dari kemampuan menjual dan mengeluarkan produk tersebut ke pasar, khususnya pasar ekspor.

“Percuma juga mereka keluarkan biaya untuk going concern besar-besaran, tapi tidak bisa mengeluarkan barang melalui ekspor,” kata Ridwan.

 

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya