Namun, dengan kebutuhan konsumsi yang masih tinggi, Indonesia tetap harus memenuhi sebagian kebutuhan minyak melalui impor.
"B50 itu mampu mengkonversi kurang lebih sekitar 300 ribu sampai 390 ribu barrel. Rata-rata kita masih membutuhkan impor kurang lebih sekitar 700 ribu barrel per tahun," ujarnya.
Sebelumnya, Bahlil mengatakan tahap pertama pembangunan PLTS 100 GW berpotensi dimulai di Bali. Pemerintah bahkan tengah mengupayakan jadwal Presiden Prabowo Subianto untuk menghadiri peresmian proyek tersebut.
"Nanti saya lagi usahakan meminta jadwal Bapak Presiden untuk kita peresmian tahap pertama terhadap PLTS 100 gigawatt tahap pertama. Mungkin kita akan buat di Bali," ujar Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (4/8).
Bahlil juga memastikan program PLTS 100 GW telah dimasukkan ke dalam revisi Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025-2034. Dengan masuknya program tersebut ke dalam perencanaan ketenagalistrikan nasional, pemerintah berharap pembangunan dapat berjalan secara terukur dan berkelanjutan.
(Feby Novalius)