Selain itu petani milenial asli Rembang, Arifin turut menyampaikan optimismenya terhadap keberlanjutan usaha tani melalui program kemitraan.
Menurutnya, kemitraan telah membuat Arifin tidak perlu merantau ke kota besar untuk mencari nafkah karena kebutuhannya terpenuhi dari bertani setahun penuh.
“Saya mendapatkan pendampingan untuk memanfaatkan lahan kosong saat musim kemarau, cuaca yang panas membuat komoditas lain tidak dapat tumbuh dan bertahan. Melalui pendampingan kemitraan, saat musim kemarau saya tidak perlu lagi ke kota untuk kerja serabutan agar mampu memenuhi kebutuhan keluarga seperti dulu, cukup menanam tembakau sesuai panduan, alhamdulilah hasilnya sesuai harapan," katanya.
Program kemitraan tembakau di Jawa Tengah saat ini telah menjangkau lebih dari 10.000 petani mitra yang tersebar di Kabupaten Rembang, Grobogan, dan Wonogiri.
Sebagai bagian dari percepatan modernisasi pertanian, Kementerian Pertanian mendukung adanya bentuk-bentuk transformasi pertanian termasuk penyaluran alat mekanisasi panen yang dialokasikan guna membantu peningkatan efisiensi kerja petani di lapangan.
Pada sisi lain, keberlanjutan rantai pasok tembakau nasional dihadapkan sejumlah tantangan kebijakan. Kehadiran Kementerian Pertanian dalam memastikan keselarasan kebijakan antara sektor hulu dan hilir menjadi kunci agar kesejahteraan petani tetap menjadi prioritas.
(Dani Jumadil Akhir)