Program tersebut juga dilengkapi pengembangan bank bibit. Saat ini, dua kelurahan disebut telah memiliki bank bibit dengan potensi menghasilkan sekitar 30 ribu bibit tanaman.
Dia mengatakan apabila program di Gunungkidul menunjukkan tingkat keberhasilan yang baik, pengembangannya berpotensi diperluas hingga 300–400 hektare. Model serupa juga dapat direplikasi ke wilayah lain di Daerah Istimewa Yogyakarta.
"Kalau program ini berhasil di Gunungkidul, kemungkinan besar akan lebih mudah diterapkan di wilayah lain," katanya.
Menurutnya, pengembangan biomassa juga berkaitan erat dengan agenda pengurangan emisi karbon. Tanaman yang dikembangkan dapat dipanen dan dimanfaatkan sebagai bahan baku energi, kemudian dilakukan penanaman kembali.
Dia menilai pola tersebut membedakan pengembangan biomassa yang dilakukan PLN dengan anggapan pemanfaatan biomassa identik dengan penebangan hutan.
"Kita tunjukkan biomassa yang dilakukan PLN berbeda. Konsepnya adalah penanaman, harvesting, dan kemudian penanaman kembali," ujarnya.
(Dani Jumadil Akhir)