JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi bergerak fluktuatif, tetapi berpeluang melanjutkan penguatan pada pekan 7-11 September 2026. Pergerakan IHSG akan dipengaruhi oleh kombinasi sentimen data ekonomi global dan domestik, termasuk isu sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan, menjelaskan pasar pada pekan ini akan diawali dengan rilis data cadangan devisa (foreign exchange reserves) Indonesia pada Senin (7/9/2026). Data tersebut akan memberikan gambaran mengenai daya tahan rupiah dan likuiditas eksternal.
Selanjutnya, investor akan mencermati data Produk Domestik Bruto (PDB) Jepang serta neraca perdagangan China periode Agustus yang diproyeksikan mencatat surplus USD120,1 miliar.
"Perbaikan ini jika terkonfirmasi dapat menjadi sinyal positif bagi permintaan global dan sentimen pasar Asia, termasuk Indonesia, karena China merupakan mitra dagang terbesar bagi Indonesia," ujar David dalam risetnya, Senin (7/9/2026).
Di sisi domestik, isu erupsi Gunung Anak Krakatau menjadi salah satu dinamika penting yang patut dicermati investor.
Sebaran abu vulkanik dilaporkan berdampak pada kualitas udara dan kesehatan masyarakat di Banten, Lampung, DKI Jakarta, hingga Jawa Barat.
David menegaskan paparan abu vulkanik berisiko memicu infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan iritasi. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan permintaan alat kesehatan, seperti masker, obat untuk gangguan pernapasan, dan obat tetes mata (eye drops), sehingga dapat menjadi katalis positif jangka pendek bagi emiten sektor kesehatan.
Sebelumnya, IHSG menutup perdagangan Jumat (4/9/2026) dengan menguat 1,82 persen ke level 6.636 dibandingkan pekan sebelumnya. Penguatan indeks tersebut ditopang oleh derasnya arus modal asing masuk (net inflow).
"Secara kumulatif, investor asing membukukan net inflow Rp2,306 triliun di seluruh pasar dan Rp1,608 triliun di pasar reguler, dengan konsentrasi pembelian pada big banks, yakni BBRI, BBCA, BMRI, dan BBNI, yang bersama-sama mencatat net foreign buy lebih dari Rp3,19 triliun di pasar reguler," tegasnya.
Dari sisi global, pasar juga merespons positif kebijakan Kementerian Keuangan Amerika Serikat (US Department of the Treasury) yang memperbesar nilai pembelian kembali (buyback) surat utang tenor panjang dari maksimal USD2 miliar menjadi minimal USD4 miliar per operasi mulai 9 September 2026. Kebijakan tersebut ditujukan untuk meredakan tekanan imbal hasil (yield) serta menjaga likuiditas pasar modal global.
Buy CDIA — Current Price: 452, Entry: 452, Target Price: 500 (10,62 persen), Stop Loss: 432 (-4,42 persen), dan Risk to Reward Ratio 1:2,4.
Buy TBIG — Current Price: 1.515, Entry: 1.515, Target Price: 1.650 (8,91 persen), Stop Loss: 1.455 (-3,96 persen), dan Risk to Reward Ratio 1:2,3.
Buy CBDK — Current Price: 4.050, Entry: 4.050, Target Price: 4.300 (6,17 persen), Stop Loss: 3.940 (-2,72 persen), dan Risk to Reward Ratio 1:2,3.
Buy Obligasi PBS038.
(Feby Novalius)