JAKARTA - PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) tengah melakukan peninjauan ulang (review) terhadap rencana pengeluaran modal (capital expenditure/Capex) untuk tahun anggaran 2026 yang semula dialokasikan sebesar Rp1 triliun. Evaluasi ini dilakukan guna mengantisipasi dampak dinamika geopolitik global yang mengganggu rantai pasok (supply chain) bahan baku obat dan kemasan.
Direktur Kalbe Farma, Kartika Setiabudy menjelaskan, volatilitas pasokan bahan baku secara global mendorong perseroan untuk mengalihkan prioritas utama manajemen pada pengelolaan modal kerja (working capital).
"Untuk tahun ini pada awalnya kami merencanakan alokasi sekitar 1 triliun rupiah. Tapi memang kita melakukan beberapa review atas projek-projek yang sedang kami jalankan karena tahun ini dengan kondisi geopolitik memang ada gejolak secara global supply chain terhadap beberapa bahan baku kemasan dan juga bahan baku," ungkap Kartika dalam Public Expose Live 2026, Jumat (11/9/2026).
Meskipun alokasi Capex sedang dikaji ulang secara cermat, Kartika menegaskan bahwa pengeluaran modal yang tetap direalisasikan tahun ini difokuskan pada penambahan kapasitas produksi, khususnya di segmen farmasi dan produk nutrisi.
"Untuk Capex tentunya kita akan review kembali dan beberapa Capex yang kami siapkan tahun ini adalah untuk penambahan kapasitas baik itu di sektor pharma dan juga di nutrisi. Jadi saat ini kita sedang review kembali dan kita kedepannya akan tetap mengalokasikan investasi untuk kebutuhan pertumbuhan baik itu di sektor pharma, nutrisi maupun di bisnis kami yang lain," pungkas Kartika.
Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2026, PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) mencatatkan pertumbuhan penjualan neto sebesar 14,06 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi Rp19,47 triliun, dibandingkan Rp17,07 triliun pada semester I 2025. Pertumbuhan omzet ini ditopang kuat oleh ekspansi divisi distribusi dan penjualan produk kesehatan.
Namun, laba bersih perseroan terkoreksi tipis ke posisi Rp1,97 triliun pada semester I 2026. Penurunan margin laba bersih tersebut disebabkan oleh tingginya tekanan biaya bahan baku impor akibat pelemahan nilai tukar rupiah serta lonjakan beban operasional akibat kendala pasokan global.
Per Juni 2026, total aset Kalbe Farma tercatat naik menjadi Rp33,07 triliun dari posisi Rp30,69 triliun pada akhir tahun 2025.
(Taufik Fajar)