Menurut Bahlil, praktik tersebut turut memperparah antrean di SPBU. Ia meminta aparat kepolisian ikut bekerja sama dalam mengawasi distribusi BBM subsidi agar tidak disalahgunakan. Ia juga menyoroti perilaku sejumlah kendaraan yang dinilai sengaja mengantre BBM meski tangki kendaraannya belum benar-benar kosong.
"Ini ada indikasi sengaja motor dan mobil itu antre, tangkinya belum penuh, eh tangkinya belum kosong sudah antre. Isinya ada yang cuma 15 liter, 10 liter, 20 liter," ujarnya.
Ia menilai kondisi tersebut membuat persoalan antrean BBM subsidi di Makassar menjadi lebih kompleks. Karena itu, menurut Bahlil, penyelesaiannya tidak cukup hanya dengan menambah pasokan BBM, tetapi juga membutuhkan pengawasan terhadap pola konsumsi dan potensi penyalahgunaan BBM subsidi.
Bahlil menegaskan pemerintah akan mengambil langkah cepat untuk mengatasi persoalan tersebut, termasuk dengan melibatkan aparat penegak hukum dalam pengawasan distribusi BBM subsidi.
(Taufik Fajar)