JAKARTA – Pemerintah menargetkan kapasitas produksi bioetanol di Lampung mencapai 60 ribu kiloliter (KL) pada 2027. Target tersebut merupakan bagian dari pengembangan Bioethanol Development Center di Kecamatan Tegineneng, Kabupaten Pesawaran, Lampung, yang dikembangkan melalui kerja sama PT Pertamina New & Renewable Energy (PNRE) dan PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN).
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM Todotua Pasaribu mengatakan fasilitas tersebut pada tahap awal dibangun dengan kapasitas 60 kiloliter (KL). Kapasitas awal ini akan digunakan untuk menguji sekaligus menghitung keekonomian produksi bioetanol sebelum dilakukan peningkatan skala produksi.
"Kita bangun untuk mengukur aspek komersialisasinya: seberapa kompetitif biaya produksi yang bisa kita capai," ujar Todotua dalam keterangan resmi, Selasa (15/9/2026).
Dia menargetkan fasilitas tersebut mulai menghasilkan bioetanol paling lambat pada Desember 2026. Setelah aspek keekonomian produksi diketahui, kapasitas fasilitas akan ditingkatkan secara signifikan.
"Pada tahap awal kapasitasnya 60 kiloliter. Saya harapkan paling lambat Desember sudah bisa menghasilkan bioetanol. Setelah keekonomiannya diketahui, peningkatan kapasitas menuju 60 ribu kiloliter kita targetkan pada 2027," jelasnya.
Menurut Todotua, peningkatan kapasitas produksi bioetanol diperlukan seiring dengan rencana pemerintah meningkatkan pemanfaatan bioetanol sebagai campuran bahan bakar bensin hingga E20.
Kebutuhan tersebut juga didorong oleh proyeksi kenaikan konsumsi bensin nasional. Konsumsi bensin diperkirakan meningkat dari sekitar 37,3 juta kiloliter pada 2025 menjadi 39,7 juta kiloliter pada 2029.
Pada tahap awal implementasi bensin campuran bioetanol melalui skema E5, kebutuhan bioetanol diperkirakan mencapai sekitar 1,7 juta hingga 2 juta kiloliter per tahun. Sementara itu, kapasitas produksi bioetanol fuel-grade di dalam negeri masih terbatas.
Kondisi tersebut membuat penambahan kapasitas produksi menjadi salah satu kebutuhan penting untuk mendukung pengembangan ekosistem bioetanol nasional.
Todotua mengatakan Bioethanol Development Center di Lampung dikembangkan dengan konsep multi-feedstock. Fasilitas tersebut nantinya dapat memanfaatkan sejumlah sumber bahan baku, mulai dari molases, sorgum, hingga limbah biomassa.
"Indonesia memiliki berbagai sumber bahan baku, antara lain tebu, singkong, sorgum yang dapat diolah lebih lanjut untuk menghasilkan nilai tambah di dalam negeri," pungkasnya.
(Feby Novalius)