Pada tahap awal implementasi bensin campuran bioetanol melalui skema E5, kebutuhan bioetanol diperkirakan mencapai sekitar 1,7 juta hingga 2 juta kiloliter per tahun. Sementara itu, kapasitas produksi bioetanol fuel-grade di dalam negeri masih terbatas.
Kondisi tersebut membuat penambahan kapasitas produksi menjadi salah satu kebutuhan penting untuk mendukung pengembangan ekosistem bioetanol nasional.
Todotua mengatakan Bioethanol Development Center di Lampung dikembangkan dengan konsep multi-feedstock. Fasilitas tersebut nantinya dapat memanfaatkan sejumlah sumber bahan baku, mulai dari molases, sorgum, hingga limbah biomassa.
"Indonesia memiliki berbagai sumber bahan baku, antara lain tebu, singkong, sorgum yang dapat diolah lebih lanjut untuk menghasilkan nilai tambah di dalam negeri," pungkasnya.
(Feby Novalius)