RI Sulap Sampah Jadi Sumber Energi, Ini Skemanya

Dani Jumadil Akhir, Jurnalis
Kamis 17 September 2026 11:38 WIB
RI Sulap Sampah Jadi Sumber Energi, Ini Skemanya (Foto: Dokumentasi)
Share :

Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir mengatakan DWM memiliki keterkaitan dengan upaya memperluas pemanfaatan sumber energi berbasis limbah. PLN EPI selama ini telah mengembangkan rantai pasok biomassa untuk mendukung substitusi sebagian bahan bakar fosil pada pembangkit melalui program cofiring.

“Di PLN EPI, kita melakukan substitusi bahan-bahan fosil menjadi bahan-bahan berbasis hayati untuk kelangsungan energi kita melalui cofiring,” kata Hokkop.

Hokkop menyebut PLN telah memanfaatkan sekitar 2,5 juta ton biomassa dalam satu tahun terakhir. Sekitar 99 persen biomassa tersebut berasal dari limbah agro.

Sepanjang satu tahun terakhir, PLN telah memanfaatkan sekitar 2,5 juta ton biomassa, dengan sekitar 99 persen berasal dari limbah agro. Sementara itu, potensi limbah agro di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 80 juta ton per tahun, menunjukkan masih besarnya peluang pemanfaatan limbah menjadi sumber energi maupun produk bernilai tambah.

“Dari semua yang kita paparkan, kita baru deploy 2,5 juta ton. Ternyata potensi limbah agro kita bisa menyentuh 80 juta ton per tahun,” ujar Hokkop.

Pengembangan ekosistem biomassa tersebut juga melibatkan pelaku usaha di berbagai daerah. Saat ini, PLN EPI memiliki sekitar 180 kontrak aktif dalam rantai pasok biomassa, dengan sekitar 60 persen di antaranya melibatkan pelaku usaha muda. Keterlibatan berbagai pelaku tersebut menjadi bagian dari pengembangan ekosistem energi berbasis sumber daya lokal.

Sementara itu, Chief Technology Officer (CTO) BPI Danantara Sigit Puji Santosa menjelaskan DWM dikembangkan untuk melengkapi, bukan menggantikan, pengelolaan sampah tersentralisasi melalui waste-to-energy (WTE). Pendekatan terdesentralisasi dapat diterapkan pada wilayah yang belum memiliki skala ekonomi atau kondisi yang memadai untuk fasilitas WTE berskala besar.

“WTE adalah centralized untuk memanfaatkan energi. Sementara ini decentralized waste management. Jadi, ini tidak menggantikan WTE, tetapi complementary,” kata Sigit.

Menurut Sigit, model desentralisasi dapat diterapkan pada wilayah yang tidak memiliki skala ekonomi atau kondisi yang memungkinkan untuk membangun fasilitas WTE berskala besar. Dengan pengolahan yang lebih dekat dengan sumber sampah, kebutuhan pengangkutan sampah dalam jarak jauh juga dapat ditekan.

 

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya