LPEM FEB UI menerangkan bahwa proyeksi tersebut mempertimbangkan dinamika indikator ekonomi terbaru, khususnya laju inflasi pada Agustus 2026 yang bergerak ke level 3,19 persen secara tahunan (year-on-year), naik dari posisi 2,88 persen pada Juli 2026. Peningkatan tersebut utamanya disumbang oleh komponen harga bergejolak (volatile food).
Tekanan inflasi pada Agustus 2026 bersumber dari pasokan pangan yang sebagian besar berada di luar jangkauan instrumen kebijakan moneter. Pengetatan suku bunga lebih lanjut dinilai berisiko menekan laju kredit dan aktivitas dunia usaha.
Meskipun instrumen suku bunga dapat menjangkarkan ekspektasi, daya jangkauannya terbatas terhadap gejolak dari sisi penawaran (supply-side), sehingga koordinasi pengawasan distribusi dan ketersediaan stok pangan tetap menjadi langkah pelengkap yang penting.
(Dani Jumadil Akhir)