JAKARTA — Angkutan barang menggunakan kereta api kontainer dinilai dapat menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan efisiensi distribusi sekaligus mendukung sistem logistik yang lebih berkelanjutan. Pengalihan sebagian angkutan barang dari jalan raya ke jalur rel juga dinilai dapat mengurangi beban jalan dan emisi karbon.
Direktur Utama PT Kereta Api Logistik (KAI Logistik) Yuskal Setiawan mengatakan penguatan angkutan KA kontainer semakin relevan seiring kebutuhan distribusi barang yang terus berkembang serta rencana penerapan kebijakan Zero Over Dimension Over Load (ODOL) secara lebih menyeluruh pada 2027.
“Kereta api memiliki kapasitas angkut besar yang dapat menjadi salah satu solusi dalam mengalihkan angkutan barang dari jalan raya ke rel. Kami terus memperkuat kapasitas dan keandalan layanan agar KA kontainer semakin kompetitif dan mampu menjawab kebutuhan pelanggan,” ujar Yuskal.
Menurut dia, volume angkutan KA kontainer menunjukkan pertumbuhan sepanjang 2026. Pada Agustus 2026, volume angkutan mencapai lebih dari 280 ribu ton. Angka tersebut menjadi volume bulanan tertinggi sepanjang tahun berjalan dan meningkat sekitar 18% dibandingkan rata-rata volume bulanan pada semester I 2026.
Secara kumulatif hingga Agustus 2026, volume barang yang diangkut menggunakan KA kontainer telah mencapai lebih dari 2 juta ton. Jumlah tersebut setara dengan pengalihan lebih dari 109 ribu perjalanan truk dari jalan raya ke jalur rel.
“Secara kumulatif hingga Agustus 2026, KAI Logistik telah mengangkut lebih dari 2 juta ton barang menggunakan KA kontainer, setara dengan pengalihan lebih dari 109 ribu perjalanan truk dari jalan raya ke jalur rel. Capaian ini melanjutkan pertumbuhan positif, setelah pada 2025 volume KA kontainer mencapai sekitar 2,5 juta ton, tumbuh 8% YoY,” kata Yuskal.
Penggunaan kereta api sebagai moda angkutan barang juga memiliki dampak terhadap aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Pengalihan sebagian angkutan barang dari jalan raya dapat mengurangi beban kendaraan berat terhadap infrastruktur jalan dan menekan kebutuhan biaya pemeliharaan.
Selain itu, berkurangnya jumlah perjalanan truk di jalan raya berpotensi meningkatkan keselamatan pengguna jalan dengan mengurangi kepadatan kendaraan angkutan barang. Dari sisi lingkungan, kereta api juga dapat menjadi alternatif moda transportasi dengan emisi yang lebih rendah dibandingkan angkutan barang berbasis jalan raya, tergantung pada sumber energi dan efisiensi operasionalnya.
Upaya meningkatkan efisiensi angkutan KA kontainer juga didukung oleh pemanfaatan teknologi dan fasilitas operasional. Salah satunya melalui penggunaan teknologi Radio Frequency Identification (RFID) untuk mendukung efisiensi proses operasional.
Fasilitas pendukung juga diperlukan untuk menangani berbagai jenis komoditas, termasuk kontainer berpendingin (reefer container). Fasilitas plug in di terminal digunakan untuk menjaga pasokan listrik selama proses penanganan kontainer berpendingin.
Selain itu, informasi mengenai carbon footprint pada invoice pengiriman dapat memberikan gambaran estimasi emisi karbon dari aktivitas distribusi menggunakan kereta api. Informasi tersebut dapat membantu pelaku usaha mengukur dampak lingkungan dari aktivitas logistik dalam rantai pasok.
Pengembangan angkutan KA kontainer juga diproyeksikan terus meningkat. Segmen KA multikomoditas diperkirakan tumbuh dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (compound annual growth rate/CAGR) sebesar 8,5% hingga 2029, dengan target pendapatan mencapai Rp568 miliar pada tahun tersebut.
Yuskal mengatakan pengembangan angkutan KA kontainer tidak hanya berkaitan dengan peningkatan volume angkutan, tetapi juga dengan upaya membangun sistem logistik yang lebih efisien dan berkelanjutan.
“Pertumbuhan bisnis kami ingin berjalan seiring dengan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat dan lingkungan. Karena itu, pengembangan KA kontainer tidak hanya berorientasi pada peningkatan volume, tetapi juga pada terciptanya sistem logistik yang lebih efisien, aman, dan berkelanjutan,” tutup Yuskal.
(Feby Novalius)