Prabowo Luncurkan Proyek Rp180 Triliun, Hilirisasi Dorong Nilai Tambah dan Lapangan Kerja

Dani Jumadil Akhir, Jurnalis
Minggu 11 Oktober 2026 12:08 WIB
Prabowo Luncurkan Proyek Rp180 Triliun, Hilirisasi Dorong Nilai Tambah dan Lapangan Kerja (Foto: Setpres)
Share :

JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto telah meluncurkan 11 proyek hilirisasi di kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Halmahera Tengah, Maluku Utara pada Kamis 8 Oktober 2026. Total nilai investasi 11 proyek hilirisasi tersebut mencapai 10,2 miliar dolar AS atau sekitar Rp180 triliun.

Selain meluncurkan 11 proyek hilirisasi, Prabowo juga meresmikan ekspor perdana baterai kendaraan listrik dari kawasan IWIP. Langkah  percepatan hilirisasi industri dan peningkatan investasi nasional diapresiasi dari kalangan akademisi.

Menurut Akademisi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Bina Sarana Informatik Sarlina Sari pengembangan industri hilirisasi merupakan langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia, memperkuat struktur industri nasional, serta memperluas kesempatan kerja. Kebijakan tersebut perlu diikuti dengan penguatan kualitas sumber daya manusia, transfer teknologi, dan keterlibatan industri dalam negeri agar manfaat ekonominya dapat dirasakan secara luas.

"Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang besar, dan tantangannya adalah bagaimana mengolah kekayaan tersebut menjadi produk bernilai tambah tinggi, memperkuat industri nasional, serta menciptakan lapangan kerja yang berkualitas bagi masyarakat,” ujar Sarlina dalam keterangannya, di Jakarta, Minggu (11/10/2026).

Dia menambahkan, langkah tersebut menunjukkan pentingnya konsistensi kebijakan pemerintah dalam membangun ekosistem industri yang terintegrasi, mulai dari pengolahan mineral hingga produksi material baterai kendaraan listrik, aluminium, dan komponen pendukung industri energi masa depan.

“Yang penting bukan hanya besarnya nilai investasi, melainkan juga seberapa jauh investasi tersebut mampu membangun ekosistem industri yang kuat, meningkatkan kapasitas teknologi nasional, dan menciptakan nilai tambah di dalam negeri. Hilirisasi harus menjadi instrumen untuk memperkuat daya saing Indonesia dalam rantai pasok industri global,” katanya.

Dia juga mengapresiasi peran Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Perkasa Roeslani dalam mendorong realisasi investasi dan memperkuat agenda hilirisasi. Menurutnya, upaya menarik investasi perlu berjalan beriringan dengan penciptaan iklim usaha yang kondusif, kepastian regulasi, pembangunan infrastruktur, dan peningkatan kompetensi tenaga kerja Indonesia.

11 proyek hilirisasi di IWIP diproyeksikan menciptakan lebih dari 10.000 lapangan kerja, dengan total nilai investasi sekitar Rp180 triliun. Proyek-proyek tersebut mencakup pengembangan industri baterai, material berbasis nikel, aluminium, alat berat berbasis listrik, dan industri pendukung energi surya.

“Peran Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani menjadi penting dalam memastikan bahwa komitmen investasi dapat diterjemahkan menjadi kegiatan ekonomi yang produktif. Kita berharap investasi tidak berhenti pada pembangunan fasilitas industri, tetapi juga membuka peluang bagi tenaga kerja lokal, memperkuat pemasok domestik, dan mendorong tumbuhnya industri pendukung nasional,” ungkapnya.

Dia menambahkan, keberhasilan hilirisasi perlu diukur melalui sejumlah indikator yang konkret, antara lain peningkatan nilai tambah produk, pertumbuhan ekspor produk olahan, penciptaan pekerjaan, penguatan keterampilan tenaga kerja, serta semakin besarnya partisipasi perusahaan nasional dalam rantai pasok industri.

 

Selain proyek hilirisasi di Maluku Utara, perkembangan investasi nasional juga menjadi perhatian. Berdasarkan laporan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, realisasi investasi Indonesia pada semester I 2026 mencapai Rp1.010,6 triliun, tumbuh 7,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan menyerap 1.448.862 tenaga kerja. Investasi sektor hilirisasi tercatat mencapai Rp300,1 triliun atau sekitar 29,7 persen dari total realisasi investasi nasional.

Dia menjelaskan, capaian tersebut perlu diikuti dengan agenda pemerataan manfaat investasi, khususnya melalui penguatan hubungan antara industri besar, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), lembaga pendidikan, serta pemerintah daerah.

“Investasi yang berkualitas adalah investasi yang memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan. Karena itu, sinergi antara pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, dan masyarakat perlu diperkuat. Perguruan tinggi dapat berkontribusi melalui riset, inovasi, pendidikan vokasi, dan pengembangan sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan industri,” jelasnya.

Dia juga menekankan pentingnya memperhatikan aspek lingkungan, efisiensi energi, keselamatan kerja, dan keberlanjutan dalam pengembangan kawasan industri. Dengan demikian, percepatan hilirisasi dapat berjalan seiring dengan peningkatan produktivitas serta tanggung jawab sosial dan lingkungan.

“Indonesia perlu memastikan bahwa transformasi dari negara yang mengekspor bahan mentah menjadi negara industri menghasilkan manfaat jangka panjang. Kita ingin sumber daya alam tidak hanya menghasilkan nilai ekonomi, tetapi juga menjadi fondasi bagi kemajuan teknologi, peningkatan kualitas tenaga kerja, dan kesejahteraan masyarakat,” tukasnya.

(Dani Jumadil Akhir)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya