Advertisement
Advertisement

Dari Bumi Pomalaa Menuju Jantung Baterai Dunia

Dani Jumadil Akhir , Jurnalis-Sabtu, 31 Oktober 2026 |09:22 WIB
Dari Bumi Pomalaa Menuju Jantung Baterai Dunia
Dari Bumi Pomalaa Menuju Jantung Baterai Dunia (Foto: Fasilitas HPAL/Dokumentasi Vale)
A
A
A

JAKARTA - Dari perut bumi Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, sebuah perjalanan panjang sedang dimulai. Bijih nikel yang selama ini menjadi kekayaan alam Indonesia kini dipersiapkan untuk memasuki babak baru: diolah menjadi material penting bagi baterai kendaraan listrik yang menggerakkan transisi energi dunia.

Di kawasan Indonesia Pomalaa Industrial Park (IPIP), deretan struktur baja, jaringan pipa, dan bejana bertekanan tinggi menjadi gambaran transformasi tersebut. Melalui Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mengembangkan fasilitas pengolahan nikel berteknologi High-Pressure Acid Leach (HPAL), yang dirancang menghasilkan Mixed Hydroxide Precipitate (MHP).

Proyek ini bukan sekadar ekspansi pertambangan, tetapi menguatkan komitmen hilirisasi sebagai langkah untuk membawa Indonesia masuk lebih dalam ke rantai pasok global baterai kendaraan listrik.

Namun, perjalanan nikel Pomalaa tidak semata tentang membangun pabrik, mengejar kapasitas produksi, atau menembus pasar global. Di balik investasi miliaran dolar dan teknologi pengolahan modern, ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar: seberapa besar kekayaan mineral ini mampu menciptakan nilai tambah bagi Indonesia dan masyarakat?

Berbekal pengalaman mengelola industri nikel di Sorowako, Sulawesi Selatan, sejak 1968, Vale Indonesia kini memperluas bisnisnya. Dari yang semula berfokus pada produksi nikel dalam matte, perusahaan mulai memasuki pengolahan bijih nikel limonit menjadi MHP, salah satu produk penting dalam rantai produksi baterai kendaraan listrik.

Dari Sorowako Menuju Babak Baru Hilirisasi

Perjalanan Vale Indonesia merupakan bagian dari sejarah panjang industri nikel nasional. Berawal dengan nama PT International Nickel Indonesia (PT Inco) pada 1968, perusahaan memulai pembangunan fasilitas pertambangan dan pengolahan di Sorowako pada dekade 1970-an sebelum mengawali produksi pada 1977.

Pengalaman mengelola pertambangan, pengolahan mineral, dan infrastruktur energi selama puluhan tahun menjadi modal bagi pengembangan proyek-proyek pertumbuhan perusahaan.

Pada 2011, PT Inco berganti nama menjadi PT Vale Indonesia Tbk. Perubahan penting berikutnya terjadi pada 2024, ketika MIND ID memperkuat kepemilikannya menjadi sekitar 34 persen dan menjadi pemegang saham terbesar.

Di Sorowako, Vale Indonesia mengembangkan infrastruktur energi terintegrasi melalui tiga pembangkit listrik tenaga air (PLTA), yakni Larona, Balambano, dan Karebbe, dengan total kapasitas terpasang sekitar 365 megawatt.

Pada 2025, produksi nikel dalam matte perusahaan mencapai 72.027 ton, meningkat dibandingkan 71.311 ton pada 2024. Pengalaman tersebut menjadi pijakan untuk memperluas bisnis melalui tiga proyek pertumbuhan utama, yakni Pomalaa, Morowali, dan Sorowako Limonite. 

Jika Sorowako menjadi saksi perjalanan panjang industri nikel Vale, Pomalaa merepresentasikan arah baru perusahaan dalam mendukung kebutuhan material baterai dunia..

Fasilitas HPAL di IGP Pomalaa

 

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement