JAKARTA - Nilai tukar Rupiah melemah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan hari ini, Jumat (16/10/2026). Rupiah dibuka melemah 83 poin atau 0,46 persen menjadi Rp18.021 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.938 per dolar AS.
Selang beberapa menit kemudian, Rupiah makin melemah. Hingga pukul 09.22, Rupiah melemah 132 poin atau 0,74 persen ke level Rp18.070 per dolar AS.
Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diproyeksikan masih berada dalam tren pelemahan akibat gempuran sentimen eksternal dan risiko fiskal domestik. Meningkatnya tekanan inflasi di Negeri Paman Sam serta ketidakpastian tata kelola anggaran di dalam negeri memicu kewaspadaan tinggi pelaku pasar valuta asing.
"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun berisiko ditutup melemah di rentang Rp17.930 hingga Rp17.990 per dolar AS. Lonjakan inflasi konsumen AS yang berada di atas ekspektasi pasar kembali memperkuat posisi dolar dan menekan mata uang negara berkembang," ujar Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi.
Dari sisi eksternal, rilis Indeks Harga Konsumen (CPI) AS bulan September mencatatkan kenaikan 0,6 persen secara bulanan (month-to-month), meningkat dari realisasi Agustus sebesar 0,4 persen dan sejalan dengan konsensus.
Kenaikan tersebut mengerek inflasi tahunan AS menjadi 3,7 persen dari sebelumnya 3,4 persen, melampaui proyeksi pasar di level 3,6 persen.
Kenaikan harga bensin, solar, dan komoditas pangan menjadi motor utama laju inflasi umum tersebut.
Sementara itu, CPI inti yang mengecualikan komponen makanan dan energi tercatat naik 0,3 persen secara bulanan, melampaui estimasi 0,2 persen sekaligus menyamai kecepatan Agustus. Secara tahunan, inflasi inti bertengger di level 2,6 persen dari posisi sebelumnya 2,4 persen, berada di atas estimasi analis sebesar 2,5 persen.
Penguatan inflasi inti dipicu oleh naiknya biaya tempat tinggal, sewa setara pemilik, sektor rekreasi, pendidikan, serta lonjakan harga mobil dan truk bekas.
Pelaku pasar global kini menahan transaksi sembari mencermati rilis datablanjutan seperti Indeks Harga Produsen (PPI), Penjualan Ritel, klaim awal tunjangan pengangguran, serta rangkaian pidato para pejabat The Fed guna membaca arah suku bunga acuan.
Di pasar modal domestik, sentimen negatif turut diperparah oleh ancaman penurunan bobot saham Indonesia dalam indeks acuan global. Investor mencermati keberlanjutan reformasi bursa dan maraknya suspensi perdagangan saham yang berpotensi memicu arus modal asing keluar.
"Pasar saham Indonesia menghadapi tekanan besar menjelang evaluasi Morgan Stanley Capital International pada November 2026, menyusul estimasi bobot domestik dalam MSCI Emerging Markets yang hanya tersisa sekitar 0,43 persen pada akhir September. Keputusan lembaga tersebut nantinya sangat bergantung pada bukti bahwa reformasi pasar modal berjalan efektif untuk mencegah risiko penurunan klasifikasi pasar," jelas Ibrahim.
(Dani Jumadil Akhir)