Dari Bumi Pomalaa Menuju Jantung Baterai Dunia

Dani Jumadil Akhir, Jurnalis
Sabtu 31 Oktober 2026 09:22 WIB
Dari Bumi Pomalaa Menuju Jantung Baterai Dunia (Foto: Fasilitas HPAL/Dokumentasi Vale)
Share :

Fasilitas HPAL dan Ambisi 120 Ribu Ton Nikel

IGP Pomalaa memiliki dua komponen utama, yakni pengembangan area pertambangan oleh Vale Indonesia dan pembangunan fasilitas pengolahan nikel berteknologi HPAL oleh PT Kolaka Nickel Indonesia (KNI), perusahaan patungan Vale Indonesia dan Zhejiang Huayou Cobalt Co., Ltd dan Ford Motor Company. Pengembangan tambang dan fasilitas HPAL tersebut membutuhkan investasi sekitar USD4,5 miliar.

Teknologi HPAL menjadi jantung pengolahan proyek ini. Melalui kombinasi tekanan dan temperatur tinggi serta penggunaan larutan asam, teknologi ini dirancang untuk mengolah bijih nikel limonit berkadar rendah menjadi MHP.

Ketika beroperasi sesuai kapasitas desain, fasilitas ini diproyeksikan menghasilkan 120.000 ton nikel per tahun dalam produk MHP dan 15.000 ton kobalt per tahun dalam produk MHP.

Kapasitas tersebut diharapkan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok material baterai kendaraan listrik, industri yang kebutuhannya terus berkembang seiring percepatan transisi energi global.

Project Manager JV Pomalaa Ridwan Setiawan menjelaskan bahwa fasilitas ini menggunakan autoclave berkapasitas besar dengan teknologi modern. Sistem energinya dirancang memanfaatkan kombinasi pembangkit listrik berbasis liquefied natural gas (LNG) dan panas dari Acid Plant melalui Heat Recovery System.

"Kami tidak menggunakan PLTU batu bara. Kami menggunakan LNG Power Plant dan Heat Recovery System dari Acid Plant," ujar Ridwan saat ditemui Okezone di Pomalaa, Senin, 26 Oktober 2026.

Menurut dia, pemanfaatan empat Acid Plant memungkinkan pemenuhan kebutuhan energi untuk lima autoclave beserta infrastruktur pendukung fasilitas pengolahan.

Rancangan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan industri hilir tidak hanya berorientasi pada kapasitas produksi, tetapi juga memperhatikan efisiensi energi dan teknologi yang digunakan.

Menjelang Produksi, Tantangan Sesungguhnya Dimulai

Hingga September 2026, pembangunan fasilitas HPAL Pomalaa telah mencapai progres fisik 96,97 persen. Sementara itu, progres konstruksi area pertambangan pada kuartal III 2026 tercatat sekitar 88,98 persen.

Proyek pun memasuki tahap pengujian dan commissioning untuk memastikan seluruh fasilitas dapat berfungsi sesuai rancangan.

Ridwan menjelaskan bahwa tahapan tersebut meliputi functional test setiap unit, connectivity test antarlini produksi, hingga pengumpanan bijih nikel atau ore ke fasilitas pengolahan.

Untuk lini pertama dan kedua, proses penyelesaian serta persiapan commissioning terus dilakukan. Perusahaan juga menargetkan pengujian lima lini produksi secara bertahap hingga akhir 2026.

"Kami masih optimistis dan confident bahwa partner kami akan menyalurkan produk HPAL MHP pertama di tahun ini," kata Ridwan.

Namun, kesiapan fasilitas bukan satu-satunya penentu keberhasilan operasional. Ketersediaan pasokan bijih nikel juga menjadi perhatian.

Ridwan mengungkapkan bahwa keterbatasan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) menjadi salah satu tantangan dalam memastikan kebutuhan material untuk proses produksi.

Persoalan ini memperlihatkan bahwa pabrik berkapasitas besar membutuhkan kepastian pasokan bahan baku agar seluruh lini produksi dapat beroperasi optimal. Kesinambungan kegiatan pertambangan dan pengolahan pun menjadi faktor penting dalam keberhasilan hilirisasi.

 

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya