JAKARTA - Desa didorong menjadi pemasok energi nasional. Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) dan PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) memperkuat pengembangan ekosistem biomassa berbasis Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa)
Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Yandri Susanto, mengatakan pengembangan ekosistem biomassa merupakan langkah strategis untuk mengoptimalkan potensi sumber daya desa menjadi komoditas bernilai ekonomi. Melalui kolaborasi dengan PLN EPI, masyarakat desa didorong untuk mengambil peran aktif sebagai pelaku usaha dalam rantai pasok energi nasional.
Hal ini melalui Program Pengembangan Ekosistem Biomassa Bersama BUMDesa di Desa Salira, Kabupaten Serang, Banten dengan pengiriman perdana sawdust (serbuk gergaji) dari BUMDesa di Desa Salira, Kabupaten Serang, Banten menuju PLTU Suralaya yang dioperasikan oleh PLN Indonesia Power.
Kolaborasi ini dilakukan dengan mengintegrasikan potensi limbah pertanian, perkebunan, dan industri lokal ke dalam rantai pasok biomassa untuk kebutuhan pembangkit listrik guna mendukung transisi energi, mengurangi emisi karbon, sekaligus menciptakan peluang ekonomi dan lapangan kerja baru bagi masyarakat desa.
"Benar-benar menjadi tonggak keseriusan kita. Ujungnya adalah bagaimana memastikan potensi apa pun yang ada di desa bisa kita maksimalkan," ujar Yandri dalam keterangannya, Jakarta, Rabu (4/11/2026).
Menurut Yandri, program ini sejalan dengan Asta Cita keenam Presiden Prabowo Subianto yakni membangun dari desa dan dari bawah untuk pemerataan ekonomi serta pengentasan kemiskinan. Pengembangan biomassa diharapkan mampu menciptakan sumber pendapatan baru bagi masyarakat melalui pemanfaatan sumber daya lokal yang selama ini belum dioptimalkan.
Potensi biomassa tersebut antara lain berasal dari bonggol jagung, jerami, serbuk gergaji, sabut dan tempurung kelapa, hingga cangkang sawit. Melalui pengelolaan BUMDesa, berbagai bahan baku tersebut dapat dikumpulkan, diolah, dan dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan biomassa pembangkit listrik PLN.
Yandri menilai pengembangan ekosistem biomassa memiliki potensi besar untuk direplikasi di berbagai wilayah Indonesia. Di Kabupaten Serang, terdapat 326 desa yang dapat dipetakan potensi sumber daya lokalnya untuk mendukung pengembangan rantai pasok biomassa. Pada tahap awal, BUMDesa Bantarwaru di Kecamatan Cinangka dan BUMDesa Kadukempong di Kecamatan Padarincang menjadi bagian dari pengembangan ekosistem tersebut.
"Kalau ada kepastian penyerapan, akan ada kegiatan ekonomi. Ada yang bekerja, ada yang mendapatkan uang, ada juga kebersihan lingkungan. Efek dominonya banyak. Bukan hanya sekadar uang rupiah, tetapi bagaimana keberlangsungan hidup di desa menjadi lebih bersih, lebih guyub dan lebih bagus," ujar Yandri.