Ada empat aspek utama yang perlu diperhatikan platform untuk memenuhi ekspektasi pengguna di Indonesia:
- Latensi rendah, agar pertanyaan, jawaban, dan proses bidding dapat berlangsung seketika tanpa jeda beberapa detik
- Stabilitas di jaringan seluler, mengingat mayoritas pengguna Indonesia mengakses konten melalui ponsel dan kondisi jaringan dapat berubah saat mereka berpindah tempat
- Kemampuan menangani lonjakan pengguna, terutama saat momentum seperti 11.11, 12.12, atau sesi live dari host populer ketika trafik dapat meningkat berkali-kali lipat
- Fitur interaktif, seperti live chat, co-hosting, bidding, dan sesi tanya jawab yang kini semakin dianggap sebagai fitur standar oleh pengguna.
“Membangun seluruh kemampuan tersebut secara internal bisa membutuhkan waktu berbulan-bulan dan sumber daya tim yang besar, sementara bagi banyak perusahaan, hal tersebut bukanlah sumber utama nilai bisnis mereka. Peran kami adalah menangani lapisan teknologi real-time sehingga developer lokal dapat lebih fokus membangun pengalaman yang benar-benar membedakan aplikasi mereka,” tambah Zhao.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Perekonomian) Airlangga Hartarto menyebutkan transaksi video commerce di Indonesia melonjak hampir 90 persen menjadi 2,6 miliar transaksi.
Airlangga mengatakan jumlah penjual daring di Indonesia saat ini mencapai sekitar 800 ribu pedagang. Sementara itu, transaksi video commerce telah mencapai 2,6 miliar transaksi atau tumbuh hampir 90 persen.
"Jadi jualan pakai video tetapi pelanggannya online. Kalau kita lihat, jumlah penjual online sekitar 800 ribu, namun dalam video commerce ini transaksinya sudah naik hampir 90 persen yaitu 2,6 miliar transaksi," kata Airlangga ditemui di Kantor Kementerian Perdagangan Jakarta, Kamis, 27 Agustus 2026.
(Dani Jumadil Akhir)