JAKARTA - Live streaming kini menjadi salah satu kanal yang tumbuh paling pesat bagi masyarakat Indonesia untuk berbelanja dan berinteraksi secara online. Namun, masih banyak aplikasi yang belum siap memenuhi ekspektasi pengguna saat ini.
Dalam sesi live, ketika penonton bisa bertanya, menawar, hingga mengajukan bid secara langsung, keterlambatan beberapa detik saja dapat menentukan apakah transaksi berhasil atau calon pembeli beralih ke tempat lain.
“Banyak aplikasi masih menjadikan video live sebagai siaran satu arah, di mana host berbicara, sementara penonton menyaksikannya dengan jeda beberapa detik. Pendekatan seperti ini mungkin cukup ketika livestreaming hanya digunakan untuk hiburan, tetapi tidak ketika orang sedang berbelanja. Kalau seseorang bertanya soal ukuran produk, tetapi jawabannya baru datang ketika ia sudah beralih ke konten lain, peluang penjualan itu bisa hilang,” ujar CEO Agora Tony Zhao dalam keterangannya, Jakarta, Kamis (5/11/2026).
Perkembangan pasar membuat kebutuhan akan pengalaman real-time semakin penting. Indonesia kini menjadi pasar video commerce terbesar sekaligus dengan pertumbuhan tercepat di Asia Tenggara.
Berdasarkan laporan e-Conomy SEA 2025 dari Google, Temasek, dan Bain & Company, transaksi video commerce di Indonesia meningkat 90 persen secara tahunan menjadi 2,6 miliar. Pada saat yang sama, jumlah penjual aktif dan toko online naik 75 persen hingga mencapai sekitar 800.000.
Tren ini juga membuka peluang lebih luas bagi perekonomian. Pelaku usaha kecil kini dapat menjangkau pembeli dari berbagai daerah hanya dengan bermodalkan ponsel dan koneksi internet yang stabil.
Ekosistem lives treaming juga menciptakan peluang kerja baru bagi host, kreator, hingga tim produksi. Laporan yang sama memproyeksikan ekonomi digital Indonesia dapat mencapai sekitar USD180 miliar pada 2030 dalam skenario pertumbuhan menengah.
“Peluang Indonesia bukan hanya karena masyarakatnya banyak menonton konten live, tetapi karena mereka aktif berpartisipasi. Masyarakat Indonesia sudah terbiasa berbincang dan menawar langsung dengan penjual, dan video live membawa kebiasaan tersebut ke ranah digital," ujarnya.
Menurutnya, platform yang akan unggul bukan sekadar yang menyediakan tombol live, tetapi yang mampu membuat percakapan terasa benar-benar instan. "Kebutuhan ini juga melampaui sektor belanja, mulai dari pendidikan, layanan kesehatan, hingga aplikasi berbasis komunitas,” katanya.
Ada empat aspek utama yang perlu diperhatikan platform untuk memenuhi ekspektasi pengguna di Indonesia:
- Latensi rendah, agar pertanyaan, jawaban, dan proses bidding dapat berlangsung seketika tanpa jeda beberapa detik
- Stabilitas di jaringan seluler, mengingat mayoritas pengguna Indonesia mengakses konten melalui ponsel dan kondisi jaringan dapat berubah saat mereka berpindah tempat
- Kemampuan menangani lonjakan pengguna, terutama saat momentum seperti 11.11, 12.12, atau sesi live dari host populer ketika trafik dapat meningkat berkali-kali lipat
- Fitur interaktif, seperti live chat, co-hosting, bidding, dan sesi tanya jawab yang kini semakin dianggap sebagai fitur standar oleh pengguna.
“Membangun seluruh kemampuan tersebut secara internal bisa membutuhkan waktu berbulan-bulan dan sumber daya tim yang besar, sementara bagi banyak perusahaan, hal tersebut bukanlah sumber utama nilai bisnis mereka. Peran kami adalah menangani lapisan teknologi real-time sehingga developer lokal dapat lebih fokus membangun pengalaman yang benar-benar membedakan aplikasi mereka,” tambah Zhao.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Perekonomian) Airlangga Hartarto menyebutkan transaksi video commerce di Indonesia melonjak hampir 90 persen menjadi 2,6 miliar transaksi.
Airlangga mengatakan jumlah penjual daring di Indonesia saat ini mencapai sekitar 800 ribu pedagang. Sementara itu, transaksi video commerce telah mencapai 2,6 miliar transaksi atau tumbuh hampir 90 persen.
"Jadi jualan pakai video tetapi pelanggannya online. Kalau kita lihat, jumlah penjual online sekitar 800 ribu, namun dalam video commerce ini transaksinya sudah naik hampir 90 persen yaitu 2,6 miliar transaksi," kata Airlangga ditemui di Kantor Kementerian Perdagangan Jakarta, Kamis, 27 Agustus 2026.
(Dani Jumadil Akhir)