Share

Di Balik Transaksi Temasek Penuh Kontroversi (2)

Trust, Jurnalis · Kamis 13 Maret 2008 09:45 WIB
https: img.okezone.com content 2008 03 12 21 91181 HlN0dFI0zy.jpg

JAKARTA - Di antara para calon pembeli, Kookmin Bank, agaknya punya peluang besar menggantikan Temasek.

Saat ini, dalam konsorsium Sorak, Kookmin memiliki porsi 25 persen saham. Seorang pejabat BII mengungkapkan, sejak akhir tahun silam, para pejabat bank asal Korea itu kerap berkunjung ke BII.

Padahal, itu jarang mereka lakukan sebelumnya. Adakah itu sinyal bahwa pemilik baru BII sebenarnya sudah ada?

"Saya tidak tahu apakah Temasek punya deal dengan Kookmin," tutur sang sumber, seperti dikutip di Jakarta, Kamis (13/3/2008).

Yang jelas, masuknya Sorak ke BII tahun 2003 silam, diliputi sejumlah kontroversi. Ceritanya, pada proses divestasi 51 persen itu, Sorak bersaing dengan konsorsium Panin Bank.

Pada saat penawaran harga, konsorsium Panin mengajukan harga Rp90 per saham (1,3x dari nilai buku). Sementara, Konsorsium Sorak hanya menawar Rp78 per saham atau 1,2 x dari nilai buku BII.

Harga penawaran itu membuat Panin berhasil meraih skor 60 untuk penawaran yang diajukannya. Adapun Sorak hanya mendapat skor 52. Andai kata tawaran Panin diterima, pemerintah berpotensi menerima hasil divestasi sebesar Rp 2,19 triliun.

Tapi, lantaran 51 persen saham atau setara 24,37 miliar saham itu dilepas ke Sorak, negara hanya mendapat Rp1,90 triliun.

Salah satu penyebab kegagalan Panin saat itu, lantaran calon investor tersebut terlambat beberapa menit memasukkan konsep usulan kesepakatan jual-beli (sale and purchasing agreement atau SPA).

Akibat keterlambatan itu sungguh fatal. Konsorsium yang dibentuk Bank Panin bersama Raiffeisen Zentralbank Osterreich AG dan Fleur Enterprise Ltd (19 persen) itu terpaksa harus menerima kenyataan pahit.

Konsepnya sama sekali tidak diindahkan BPPN dan hanya diberi skor 2,67. Padahal, skor maksimal yang bisa diberikan BPPN untuk menilai konsep SPA ini adalah 20. Sorak sendiri memperoleh skor 12,23 untuk konsep SPA-nya.

Setelah melego 51 persen saham tersebut, pada tahun 2005 pemerintah kembali menjual 15,25% saham senilai Rp 185 per saham. Lantas, 5,53 persen saham lain dijual tahun 2006 seharga Rp 514,26 miliar.

Dari program divestasi saham BII, pemerintah tekor besar. Betapa tidak? Untuk menyelamatkan bank ini dari kebangkrutan, negara menginjeksi dana hingga Rp27,4 triliun. Rinciannya, dana rekapitalisasi awal senilai Rp8,7 triliun. Lantaran masih berdarah-darah, pemerintah kembali setor Rp11,9 triliun dari hedge bond.

Apabila diakumulasikan dengan peran serta pemerintah dalam right issue sebesar Rp4,7 triliun, total injeksi ke BII mencapai Rp25 triliun.

Bila pemerintah buntung, tidak demikian dengan Temasek. Kalau mereka benar-benar melepas sahamnya, maka BUMN Singapura ini bakal menikmati fulus besar.

Mari berhitung. Dengan asumsi saham BII mencapai 48,2 miliar, maka kepemilikan Konsorsium Sorak sebanyak 26,9 miliar saham.

Nah, jika Temasek menguasai 75 persen saham Sorak, maka total saham yang dimiliki gergasi ini sekitar 20,1 miliar saham.

Seandainya penjualan mengacu pada harga saham sekarang, di level Rp350 per saham (5/3), maka Temasek berpotensi meraup dana sekitar Rp7 triliun.

Harga itu kemungkinan bisa lebih tinggi lagi. Sebab, Temasek diketahui cukup agresif memainkan saham BII di pasar. Bahkan menjelang akhir tahun silam, pemilik Bank Danamon ini mengoleksi banyak saham berkode BNII tersebut lewat bursa.

Dampaknya, harga saham bank tersebut terus menggeliat. Walaupun fundamentalnya lebih jelek ketimbang 2006, banderol BNII terus melambung. Dalam kurun waktu setahun, saham ini telah beranjak dari level terendah Rp146 hingga level tertinggi Rp365.

Artinya, telah terjadi kenaikan sebesar 150 persen. Jadi? Mari kita tunggu kejutan dan kontroversi baru yang bakal dibikin BNII!

Perkembangan Bisnis BII

(dalam miliar rupiah)

Indikator         2007    2006    Perubahan (%)

Aset                     55.148   53.101    4

Obligasi pemerintah 8.915  10.438    (15)

Kredit                 33.056    26.263    26

DPK                    36.971    31.117    -

Laba bersih        405           634    36

NIM (%)            5,27          5,80    -

NPL nett (%)     2,22        3,62    -

LDR (%)            88,34       70,16    -

CAR (%)            21,35    24,08    -

Sumber: Laporan Konsolidasi BII

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini