Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

RI Naikkan Harga BBM untuk Lolos Krisis di 2013

Raisa Adila , Jurnalis-Selasa, 25 November 2014 |12:04 WIB
RI Naikkan Harga BBM untuk Lolos Krisis di 2013
Mantan Menteri Keuangan M Chatib Basri. (Foto: OKezone)
A
A
A

JAKARTA - Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pernah menerapkan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) pada 2013. Kenaikan harga BBM tersebut, disebabkan adanya krisis ekonomi.

"Krisis di 2013, tapi saya tidak boleh bilang karena nanti masyarakat panik," ucap Mantan Menteri Keuangan era Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II, Chatib Basri, saat acara DBS Asian Insights Seminar di Jakarta, Selasa (25/11/2014).

Chatib menambahkan, kenaikan BBM tersebut merupakan pilihan satu-satunya, untuk membuat defisit current account lebih kecil. Sehingga, kebijakan yang sarat akan kontroversi itu memang langkah yang harus diambil. "Perlambatan pertumbuhan ekonomi harus ditempuh gimana pun caranya," tambah Chatib.

Menurut Chatib, jika pemerintah tidak bisa mengatur situasi perekonomian dengan baik, maka kondisi di tahun 2013 bisa kembali seperti krisis di 1998. Dari kebijakan tersebut, Indonesia berhasil keluar dari kesulitan ekonomi di Januari.

Chatib Basri

Sekadar informasi, Sesuai ketentuan pasal 4,5,6 PP No. 15 tahun 2012 tentang harga jual eceran dan Permen no 18 tahun 2013 tentang harga jual eceran jenis BBM tertentu, ditetapkan bensin premium (gasoline ron 88) Rp6.500 per liter, sementara minyak solar (gas oil) Rp5.500 per liter.

Sebagai kompensasi, saat itu pemerintah menggelontorkan BLSM sekitar Rp9,3 triliun untuk 15,5 juta keluarga miskin. Dana tersebut akan diberikan sebesar Rp150 ribu per keluarga per bulan selama empat bulan.

(Martin Bagya Kertiyasa)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement