JAKARTA - Fluktuasi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) membuat beberapa industri mengalami kebingungan. Pasalnya naik turunnya harga BBM akan mempengaruhi penetapan harga jual barang kepada konsumen.
Salah satu yang terpengaruh, yakni industri pallet kayu yang digunakan sebagai bantalan barang untuk pengiriman ekspor dan impor.
Menurut salah satu pengusaha pallet kayu, CEO PT Damar Esa Gemilang Yati Sastrawati, seharusnya harga BBM bisa ditetapkan seperti sebelumnya. Jadi harga BBM tidak harus mengikuti harga minyak dunia seperti yang akan direncanakan pemerintah.
"Harusnya harga (BBM) bisa stabil sehingga kita tidak bingung menentukan harga pallet. Tidak mungkin harga kita juga naik turun, kasihan konsumen nantinya," ujar Yati Sastrawati ketika dihubungi Okezone, Sabtu (10/1/2015)
Dia menambahkan, kenaikan itu juga akan berpengaruh pada bertambahnya biaya transportasi untuk pengiriman pallet kayu ke perusahaan pemesan barang. "Bertambahnya 10 persen selama kenaikan BBM ini," dia mengimbuhkan.
Perlu diketahui harga BBM jenis premium sempat menyentuh harga Rp8.500 per liter, namun beberapa bulan kemudian pemerintah menurunkan kembali harga BBM jenis premium di kisaran Rp7.600 per liter. Ke depannya pemerintah akan menerapkan harga BBM berdasarkan harga minyak dunia.
(Fakhri Rezy)